Survei terbaru Indonesia Research Center (IRC) menunujukkan Wiranto dan Prabowo Subianto masih berebut menduduki peringkat kedua sebagai calon yang paling banyak dipilih untuk menjadi presiden 2014-2019.
"Tingkat elektabilitas Wiranto berada di angka sekitar 10,7 persen dan Prabowo sekitar 9,4 persen," jelas Peneliti IRC, Yunita Mandolang, kepada wartawan di Jakarta, Kamis (31/10).
Hasil ini merupakan hasil sementara diperoleh dari 8200 responden, atau
sekitar 50 persen dari total keseluruhan responden yang disurvei IRC.
Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka menggunakan kuesioner pada
25 September lalu dengan domisili responden di 14 provinsi di Indonesia.
Survei memiliki tingkat kepercayaan 95 persen, ambang kesalahan kurang
lebih 0,77 persen.
Mirip dengan hasil yang dirilis IRC pekan lalu, 21 Oktober 2013, saat data yang masuk dan diverifikasi sebesar 30 persen, urutan kedua dan ketiga capres yang banyak dipilih masih berada dalam genggaman Wiranto dan Prabowo. Hasil sama juga masih menempatkan Joko Widodo di urutan pertama dengan tingkat keterpilihan sebesar 36,2 persen.
Yunita menjelaskan dukungan terhadap Wiranto terlihat menguat berdasarkan survei yang dilakukan IRC pada September hingga Oktober. Dibandingkan survei yang dilakukan IRC pada Mei lalu yang dilakukan dengan metode yang sama dengan jumlah responden 1978, elektabilitas Wiranto sudah naik 6 poin dalam empat bulan terakhir. Saat itu, elektabilitas Wiranto baru di kisaran 4 persen, sementara Prabowo sudah mencapai sekitar 16 persen.
"Meski urutan elektabilitas masih sangat mungkin berubah, namun elektabilitas Wiranto dan HT telah naik cukup signifikan. Kenaikan itu menggerus suara Prabowo yang selama ini mengunci posisi kedua di berbagai survei," imbuh Yunita.
Sementara itu, kata Yunita, elektabilitas Megawati Soekarnoputri dan Aburizal Bakrie belum banyak bergeser dibandingkan survei IRC yang dilakukan empat bulan lalu, yaitu berturut-turut berada di kisaran 8 dan 6 persen. Tingginya tingkat elektabilitas Golkar yakni sebesar 14.48 persen tidak dapat mengalirkan suara untuk Aburizal Bakrie yang hanya memiliki kisaran elektabilitas sekitar 7,6 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai Ketua Umum, Aburizal Bakrie tidak mampu menjadi magnet bagi konstituen partai.
"Di tilik dari wilayah, Surya Paloh mendapat elektabilitas tertinggi di Nanggroe Aceh Darussalam dengan angka sekitar 30 persen yang merupakan elektabiltas terunggul dibandingkan dukungan yang diberikan untuk Jokowi sebesar 26 persen. Sementara Jusuf Kalla sangat kuat di Sulawesi Selatan dengan jumlah pemilih 43 persen," demikian Yunita.
[dem]