Berita

foto: net

IMES Kecam Intervensi dan Kengototan Freeport Bangun Smelter

RABU, 23 OKTOBER 2013 | 22:51 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Indonesia Mining And Energy Studies (IMES) mengecam sikap PT Freeport Indonesia (PTFI) yang ngotot dan memaksa pemerintah memberikan keringanan membangun pabrik pengolahan bahan mentah menjadi bahan setengah jadi (smelter).

"Cukup sudah Freeport menjarah dan merampok sumber daya tambang dan mineral Indonesia di Tanah Papua selama 46 tahun sejak tahun 1967," ujar Direktur Eksekutif IMES, M. Erwin Usman, melalui pesan elektronik yang diterima redaksi, Rabu (23/10).

Desakan Freeport kepada pemerintah untuk mendapatkan dispensasi terkait ekspor konsentrat tambang yang dimilikinya disampaikan Presiden Direktur Freeport Indonesia Rozik Soetjipto, kemarin.


Selain itu, Rozik juga minta keringanan untuk eksepor konsentrat tetap dilakukan pada tahun 2014, walaupun UU No 4/2009 tentang Mineral dan Batubara sudah menegaskan melarang ekspor bijih mineral.

Dalam catatan IMES, intervensi dan sikap ngotot Freeport ini bukan yang pertama terjadi. Freeport sebelumnya ngotot terkait tahap renegosiasi kontrak karya. Sikap lembek pemerintah pun menjadi bulan-bulanan negosiator Freeport.

Erwan menegaskan yang harus dilakukan pemerintah dan rakyat Papua saat ini adalah bagaimana kekayaan alam yang dikuasai Freeport kembali dikuasai oleh bangsa Indonesia, digunakan sebesar-besar bagi kepentingan nasional dan kemaslahatan bangsa sesuai amanat konstitusi Pasal 33 UUD 1945.

"IMES menggalang dukungan solidaritas yang luas agar cara-cara korporasi transnasional yang gunakan kekuatan kapital dan sindikasi global untuk mendikte republik seperti yang terjadi selama ini untuk segera dilawan dan diakhiri," kata Erwin.

"IMES juga mengecam sikap lembek pemerintah yang tak berani berhadapan dengan sindikasi korporasi seperti Freeport, Newmont, Vale Indonesia," demikian Erwin.[dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya