Berita

ilustrasi/net

Politik

Apemindo Minta Pemerintah Kaji Kontrak Karya yang Merugikan

JUMAT, 18 OKTOBER 2013 | 23:10 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Mayoritas masyarakat Indonesia tidak percaya jika hasil bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai oleh negara. Dari data hasil survei Indonesia Survey and Strategy (ISS), sebanyak 53,30 persen publik tidak percaya bahwa pasal 33 UUD 1945 hasil amandemen telah dilaksanakan bagi kemakmuran rakyat.

"Masyarakat kini melihat kekayaan alam Indonesia lebih banyak dikuasai asing melalui kontrak karya yang diperoleh dengan cara yang menguntungkan beberapa pihak dalam kesepakatan kontrak karya," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Mineral Indonesia (Apemindo) Poltak Sitanggang dalam diskusi bertema 'Persepsi Publik tentang Pengelolaan Kekayaan Alam Indonesia' di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (18/10).

Dia menjelaskan, penambangan yang dilakukan perusahaan kontrak karya seperti Freeport, Newmont, dan Vale selama puluhan tahun dinilai tidak memberi keuntungan bagi masyarakat. Dengan kata lain tidak memberi manfaat nyata bagi pembangunan masyarakat yang tinggal di sekitar perusahaan-perusahaan itu beroperasi.


"Juga dipandang tidak membantu dalam pengentasan kemiskinan di wilayah usaha perusahaan kontrak karya itu," kata Poltak.

Karena itu, Apemindo mendesak pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM untuk mencabut izin penguasaan lahan kepada perusahaan kontrak karya yang tidak memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.

Menurut Poltak, tidak tegasnya sikap pemerintah dengan terus memperpanjang kontrak karya hanya memberi penguasaan lahan untuk dibiarkan terlantar mengonfirmasi persepsi sebagian besar masyarakat bahwa sumber daya alam Indonesia tidak dikuasai oleh negara. Melainkan hanya menguntungkan sebagian orang yang terlibat dalam mengurus perpanjangan kontrak karya itu.

"Lahan hanya dikuasai selama puluhan tahun oleh perusahaan kontrak karya, namun tidak dikelola untuk mendapatkan nilai manfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat sesuai ketentuan undang-undang yang berlaku," tegasnya.[dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya