Berita

dahnil anzar/net

Politik

Manipulasi Pembangunan Ratu Atut akan Dicetak Ulang

JUMAT, 18 OKTOBER 2013 | 08:12 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Dahnil Anzar bertekad memutakhirkan data dan mencetak ulang buku "Akrobat Pembangunan" yang ditulisnya tahun 2011 lalu. Buku yang mencermati proses pembangunan Provinsi Banten di bawah pemerintahan Ratu Atut Chosiyah itu sempat membuat pemerintahan Ratu Atut limbung.

Pembangunan di Banten, menurut Dahnil yang juga dosen ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) sarat manipulasi dan otak-atik indikator pembangunan. Otak-atik ini, demikian Dahnil, memang sukses memperlihatkan kesan bahwa pemerintah Banten berhasil maksimalisasi pembangunan. Namun di sisi lain justru mengabaikan substansi pembangunan.

"Buku itu akan saya cetak ulang dengan pemutakhiran data dan indikator pembangunan Banten yang dimanipulasi," ujar Dahnil dalam perbincangan dengan redaksi beberapa saat lalu.


Menurut Dahnil, ia terdorong mencetak ulang buku itu karena belakangan ia menyaksikan bagaimana keluarga Ratu Atut mencoba memelintir kasus suap dan korupsi yang melilit anggota keluarganya dan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar menjadi isu penzaliman terhadap keluarganya.

"Padahal, kasus suap di MK ini bisa menjadi pintu masuk untuk menguak kezaliman yang dilakukan pemerintahan Ratu Atut bersama dinasti politik yang dibangunnya," ujar Dahnil lagi.

Tak lama setelah menerbitkan buku itu, Dahnil menyampaikan hasil penelitiannya di Banten itu kepada Presiden SBY pada sebuah kesempatan pertemuan di Istana Negara di bulan Januari 2011.

Setelah mendengarkan penjelasan Dahnil, SBY membenarkan bahwa ekonomi pembangunan Banten masih yang paling rendah setelah Nusa Tenggara Timur (NTT). Bedanya, Banten adalah provinsi yang memiliki kekayaan alam melimpah. Sementara NTT dikenal sebagai salah satu provinsi dengan potensi kekayaan alam yang minim.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa yang juga hadir mendampingi SBY dalam pertemuan itu membenarkan bahwa pembangunan ekonomi Banten adalah yang terendah di Indonesia. [dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Pernah Tembak Mati Perampok Toko Emas, Eks Kapolres Jakbar Kini Jabat Kapolda Papua Barat

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:17

PIEP Datangkan 450 Ribu Barel Minyak dari Aljazair

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:07

Din Syamsuddin Tawarkan Konsep Etika Global Bersama di Forum Internasional Mauritius

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:05

KSP Kawal Ketat Kopdes Merah Putih hingga Capai Target

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:04

Strategi Pertamina Trans Kontinental Jaga Stabilitas Kinerja 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:49

Lebih dari 42 Ribu Warga Ikut Pilih Logo HUT RI ke-81

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:40

Ketika Demonstrasi Punya Harga, yang Mati Bukan Hanya Integritas Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:34

Forum Bersama Raja Charles III, Jumhur Bicara Kebijakan Pengelolaan Limbah

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:30

Menkop Gandeng KSP Percepat Operasionalisasi Kopdes

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:23

AKBP Supriyanto jadi Kapolres Pertama Kawasan IKN

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:20

Selengkapnya