Berita

Hasto Kristiyanto/net

Politik

PDIP: Sofjan Wanandi Tidak Bisa Baca Garis Politik Mega

JUMAT, 11 OKTOBER 2013 | 22:14 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Kelompok Sopjan Wanandi dan Mari Elka Pangestu dikabarkan menyiapkan Rp 2 triliun agar PDIP mengusung duet Mega-Jusuf Kalla atau Jokowi-Jusuf Kalla pada Pilpres 2014. Elit PDIP menganggap manuver tersebut merusak demokrasi.

"Itu mencederai demokrasi berdasarkan kedaulatan rakyat yang selama ini kita junjung," ujar Wakil Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto kepada Rakyat Merdeka Online, Jumat (11/10).

Hasto berkeyakinan tawaran pragmatis Sofjan bakal ditolak mentah-mentah oleh partainya. PDIP, kata Hasto, selama ini selalu ingin dan memperjuangkan untuk membangun politik berkeadaban.


"Orang yang bermanuver seperti itu tidak bisa membaca garis politik bu Mega yang mengharamkan politik pragmatis. Saya tidak percaya bu Mega mau terima tawaranya," imbuh dia.

Hasto menegaskan partainya terbuka untuk jalan bersama dengan semua pihak dalam pilpres 2014 mendatang. Tetapi hal itu didasarkan atas kesamaan ideologi dalam sistem politik, demokrasi dan Pancasila. Siapapun bisa bersama PDIP selagi punya kesamaan visi untuk membangun negara berdasarkan cita-cita proklamasi, yakni berdaulat di bidang energi dan pangan dengan sokongan ekonomi kerakyatan.

"Kami menyiapkan Pilpres secara matang, bukan sekedar berkuasa. Kami siap bekerjasama dengan partai berdasarkan kesamaan konsepsi Pancasila dengan ajaran Trisakti sebagai turunanya. Bukan dengan tawaran uang. Kita tidak mau tersandra," demikian Hasto.

Beredar informasi kelompok Sofjan Wanandi dan Marie Elka Pengestu menggalang kekuatan agar PDIP mengusung duet Mega-Jusuf Kalla atau Jokowi-Jusuf Kalla. Untuk menggolkan tujuan tersebut, keduanya menyiapkan dana Rp 2 triliun. [dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

UPDATE

Netanyahu Sebut Perang dengan Iran Belum Usai

Senin, 11 Mei 2026 | 08:20

OJK: Bank Bebas Tentukan Strategi Kredit, Program Pemerintah Hanya Potensi Bisnis

Senin, 11 Mei 2026 | 08:09

Harga Emas Langsung Tergelincir Usai Trump Tolak Tawaran Iran

Senin, 11 Mei 2026 | 07:50

Respons Iran soal Proposal AS Picu Kemarahan Trump

Senin, 11 Mei 2026 | 07:40

Sudah Saatnya Indonesia Berhenti dari Ketergantungan Energi Luar Negeri

Senin, 11 Mei 2026 | 07:27

Pasar Properti Indonesia Menyentuh Titik Jenuh

Senin, 11 Mei 2026 | 07:09

Optimalkan Minyak Jelantah

Senin, 11 Mei 2026 | 06:40

Geoffrey Till: Kekuatan Laut Bukan Sekadar soal Senjata

Senin, 11 Mei 2026 | 06:10

Delegasi Jepang Sambangi Fasilitas BLP Bahas Masa Depan Logistik

Senin, 11 Mei 2026 | 05:59

Ngobrol dengan Nelayan

Senin, 11 Mei 2026 | 05:40

Selengkapnya