Berita

ilustrasi/net

Hentikan Pembangunan Mal di Jakarta!

SELASA, 24 SEPTEMBER 2013 | 08:52 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Jumlah mal di Jakarta sangat fantastis. Jakarta bertengger di urut pertama di dunia sebagai kota dengan jumlah mal terbanyak. Ini bisa jadi bukti masifnya pembangunan. Tapi, apakah ini pertanda positif?

Tokoh pemuda Jakarta yang juga bekas aktivis Ikatan Pelajar Muhammadiyah Rommy menjelaskan, pembangunan mal bukan satu-satunya cara untuk menstimulasi gegap gempita perekonomian di Jakarta. Jumlah yang ada sekarang sudah lebih dari cukup. Mall memang selama ini sebagai pusat perputaran ekonomi sekaligus sebagai sarana rekreasi dan ajang interaksi masyarakat perkotaan.

"Akan tetapi, perlu dipikirkan, bagaimana tata kota Jakarta agar masyarakat, dan khususnya anak-anak bisa memiliki hak atas taman bermain, udara yang sehat, zona hijau, dan bebas dari kemacetan sebagai penyebab stress yang menyebabkan penyakit," jelas Rommy pagi ini (Selasa, 24/9).


Rommy, yang juga calon anggota DPD RI dari Jakarta ini menjelaskan, jika semakin banyak lahan yang dimasifkan untuk pembangunan mal, maka tujuan-tujuan di atas sulit untuk dilaksanakan. Anak sebagai generasi penerus akan memiliki kualitas kehidupan yang sangat menyedihkan jika tidak ada lagi area hijau, taman bermain, polusi dan macet dimana-mana. Jika tingkat masifnya perputaran uang yang dijadikan prioritas dan melupakan lingkungan sehat di DKI, maka kualitas kehidupan juga tidak akan prima.

"Perlulah kita bangun semakin banyak kawasan hijau, dan juga pengembangan pasar-pasar tradisional yang bersih dan mudah diakses, untuk memberi kesempatan bagi produk lokal semakin mendapat tempat dan pasar. Jika pasar tradisional dikelola dengan baik, hal ini tentu menguntungkan tidak hanya untuk petani lokal yang taraf hidupnya pas-pasan, tapi ini juga akan berdampak pada terbantunya masyarakat kalangan menengah kebawah karena memiliki banyak alternatif harga untuk mengurangi konsumsi rumah tangga," jelasnya.

Karena itu, Rommy menilai pemerintah DKI yang saat ini tegas melakukan moratorium pembangunan mall ini harus diacungi jempol karena sejak dulu moratorium selalu gagal. Kepentingan pemodal besar selalu mendapat dukungan.

"Karena itu, kebijakan pro-poor oleh pemerintah DKI saat ini yang mendukung pedagang kecil, pengelolaan pasar tradisional, dan zona hijau perlu terus didorong agar Jakarta tidak meng-eksklusi masyarakat yang berpenghasilan rendah," demikian Rommy. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Prabowo Bidik Produksi Sedan Listrik Nasional Mulai 2028

Kamis, 09 April 2026 | 16:15

Program Magang Nasional Tidak Tersentuh Efisiensi

Kamis, 09 April 2026 | 15:56

BGN Siap-siap Dicecar DPR soal Pengadaan Motor Listrik MBG

Kamis, 09 April 2026 | 15:41

Gedung Kementerian PU Mendadak Digeledah Kejati DKI

Kamis, 09 April 2026 | 15:33

Gibran Dukung Hakim Ad Hoc di Persidangan Andrie Yunus

Kamis, 09 April 2026 | 15:21

Purbaya Sebut World Bank Salah Hitung soal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Kamis, 09 April 2026 | 15:19

Prabowo Dorong VKTR Jadi National Champion Industri Otomotif RI

Kamis, 09 April 2026 | 15:08

Jalan Merangkak Demokrasi Indonesia

Kamis, 09 April 2026 | 15:01

Gibran Ajak Deddy Sitorus Sama-sama Berkantor di IKN

Kamis, 09 April 2026 | 14:37

Susun RUU Ketenagakerjaan, Kemnaker Serap Aspirasi 800 Serikat Buruh

Kamis, 09 April 2026 | 14:30

Selengkapnya