Berita

ilustrasi

Bisnis

Harga BBM Dinaikkan, Impor Malah Melonjak

Pertamina Ogah Produksi Di Kilang Dalam Negeri
MINGGU, 04 AGUSTUS 2013 | 10:00 WIB

Kenaikkan harga BBM subsidi yang bertujuan untuk mengurangi impor minyak dan gas (migas) gagal total. Pasalnya, nilai impor BBM justru malah semakin melonjak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai impor migas Juni tercatat sebesar 3,53 miliar dolar AS atau naik 2,72 persen dibanding Mei 2013 sebesar 3,43 miliar dolar AS.

Sedangkan sepanjang semester I-2013, kenaikan impor migas sebesar 3,11 persen menjadi 22,11 miliar dolar AS dari sebelumnya 21,44 miliar dolar AS pada 2012.


Impor minyak pada periode enam bulan pertama ini mencapai  6,89 miliar dolar AS atau naik 24,75 persen dari tahun lalu sebesar 5,53 miliar dolar AS. Sementara minyak mentah juga terkerek naik 9,71 persen dari 1,02 miliar dolar AS menjadi 1,12 miliar dolar AS di Juni ini.

“Konsumsi masyarakat terhadap BBM masih tinggi. Jadi meski harga BBM naik belum bisa menurunkan konsumsi tersebut,” ujar Kepala BPS Suryamin di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, peningkatan konsumsi BBM setiap tahun tidak diimbangi dengan kenaikan produksi minyak di Indonesia mengingat banyak sumur eksplorasi minyak yang sudah tua. Hingga kini, pemerintah juga belum bisa menemukan sumur-sumur baru untuk menggenjot produksi minyak dalam negeri.

Senior Vice President Fuel Marketing & Distribution PT Pertamina (Persero) Suhartoko mengatakan, lebih menguntungkan mengimpor BBM daripada memproduksi bensin sendiri di kilangnya.

“Pertamina lebih untung impor daripada produksi BBM di kilang sendiri. Harga produksi BBM di kilang sendiri itu 107 persen dibandingkan harga BBM impor atau 107 persen  x MOPS (Mean of Platt’s Singapore),”  terang Suhartoko.

Menurut Suhartoko, kerugian memproduksi di kilang sendiri terjadi karena banyak kilang BBM Pertamina yang berusia tua. Termasuk kilang Balongan yang terakhir kita bangun pada tahun 80-an.

Butuh Tiga Kilang Baru

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Bambang Brodjonegoro mengatakan, Indonesia harus membangun minimal tiga kilang minyak baru untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Menurut Bambang, proyek kilang minyak mentah yang rencananya akan mulai dibangun tahun depan harus menggunakan uang rakyat dan  investasi swasta.

“Kalau melihat kebutuhannya, Indonesia perlu dua sampai tiga kilang minyak ke depan. Lokasinya bisa di mana saja yang penting kawasan Indonesia,” kata Bambang.

Kilang minyak tersebut, lanjutnya, akan dimiliki negara dan pihak swasta. “Jadi nantinya ada dua pabrik yang berbeda, dan dua kilang berbeda (pemerintah dan swasta). Bukan satu kilang untuk dua pemilik,” ujarnya.

Setiap kilang, kata Bambang, mempunyai kapasitas pengolahan minyak mentah sebesar 300 ribu barel per hari (bph). Sehingga, pemerintah maupun swasta harus menggelontokan dana masing-masing untuk pembangunan kilang.

“Kalau kilang minyak buatan pemerintah, investasi harus semuanya dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tapi kalau milik swasta, dananya juga dari mereka,” jelas Bambang.

Dia menegaskan, kebutuhan investasi untuk menggarap satu kilang minyak mentah  sekitar 10 miliar dolar AS-15 miliar dolar AS. “Seingat saya tidak sampai segitu besar,” ucap dia.

Untuk diketahui, dua perusahaan berbasis di Timur Tengah, yakni Saudi Aramco dan Kuwait Petroleum sempat ngebet membangun proyek kilang minyak di dalam negeri. Namun, mereka  masih menunggu kesepakatan insentif dari pemerintah Indonesia.

Kedua perusahaan tersebut mengajukan permintaan fasilitas insentif tax holiday selama 18 tahun. Pasalnya, mereka berencana menanamkan modalnya sekitar 9 miliar dolar AS-10 miliar dolar AS.

“Mereka kan boleh ikut tender, nanti kami akan bandingkan insentif yang mereka minta dengan orang lain. Apakah insentif dia yang paling menguntungkan buat Indonesia atau tidak,” jelas Bambang.

Sekadar informasi, PT Pertamina (Persero) kini tercatat hanya memiliki enam unit kilang minyak yang memiliki kapasitas 1,05 juta barel per hari (bph). Kilang-kilang tersebut sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka. Padahal, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini berdiri sejak 10 Desember 1957.

Keenam kilang milik Pertamina yaitu Kilang Dumai, Kilang Plaju, Kilang Balikpapan, Kilang Cilacap, Kilang Balongan dan Kilang Sorong. Produksi minyak di enam kilang tersebut, hanya 700 ribu-800 ribu bph. Indonesia saat ini butuh kilang baru yang lebih besar. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

UPDATE

Laksma TNI Salim Usul Konsep Hybrid Maritime Security dalam Forum CADTE di China

Minggu, 12 Juli 2026 | 00:01

Pengurus Dekranas Diminta Fokus Bina Kualitas Perajin buat Tembus Pasar Global

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:47

Kitab KH Zulfa Mustofa jadi Inspirasi Lanjutkan Tradisi Keilmuan Ulama

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:22

Kasus Korupsi Batu Bara Jangan Cuma Berhenti di Febrie Adriansyah!

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:55

Polri Bareng Jurnalis Trunojoyo Gelar Padel Bhayangkara Cup 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:45

Universitas Bakrie Ajak Pelajar Tingkatkan Kemampuan Komunikasi Digital

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:31

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Purbaya Terbitkan Aturan Baru, Permudah Impor Senjata hingga Bahan Baku Industri Pertahanan

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:42

Kasus Blackout Tanggung Jawab Kementerian ESDM

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:51

Ini Alasan Polri Limpahkan Berkas Perkara Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:20

Selengkapnya