Berita

ilustrasi, Hari Pertama KAI Berlakukan E-Ticketing

Bisnis

Antrean Mengular, Banyak Penumpang Balikin Tiket

Hari Pertama KAI Berlakukan E-Ticketing & Tarif Progresif
SELASA, 02 JULI 2013 | 09:41 WIB

PT Kereta Api Indonesia (API) dinilai tidak siap dalam pemberlakukan sistem tiket elektronik (e-ticketing) dan tarif progresif Kereta Listrik (KRL) Commuter Line. Antrean penumpang pun mengular di stasiun.

Kemarin, para KRL mania mengeluhkan pelayanan KAI dalam penerapan sistem tiket elektorik karena tidak didukung kesiapan dan jumlah loket di stasiun. Alhasil, di beberapa stasiun antrean panjang pun mengular sampai keluar stasiun.

Untuk diketahui, mulai Senin (1/7), PT KAI memberlakukan tarif progresif dan tiket elektronik untuk KRL Commuter Line. Dengan sistem progresfi, tarif yang diberlakukan jadi lebih murah. Tarif baru untuk jenis KRL Commuter Line AC, yaitu  Rp 2. 000 untuk lima stasiun pertama dan Rp 500 untuk tiap tiga stasiun berikutnya. Untuk  Bogor - Jakarta Kota yang semula Rp 9.000, kini dengan tarif progresif menjadi Rp 5.000.


Berdasarkan pantauan Rakyat Merdeka di stasiun Depok Baru, terjadi antrean yang cukup panjang di loket pembelian tiket. Bahkan, antreannya sampai keluar stasiun dan perlataran parkir karena hanya dua loket yang melayani pembelian tiket.

Ranto (30) mengaku kesal dengan tidak siapnya PT KAI dalam pemberlakukan sistem tiket dan tarif yang baru ini. Menurut dia, harusnya perusahaan pelat merah itu sudah mengantisipasi akan terjadinya antrean panjang di loket pembelian.

“Dengan penurunan harga tiket, pengguna KRL ekonomi pasti akan beralih menggunakan Commuter Line. Tapi ini tidak diantisipasi, akhirnya beli tiketnya antre deh,” curhat Ranto.

Padahal, kata dia, biasanya dia hanya membutuhkan waktu 5-10 menit untuk membeli tiket. Tapi, kali ini harus menunggu sampai satu jam. Ranto menilai, antrean tersebut disebabkan kurangnya loket pembelian tiket. Kondisi ini sangat merugikan dirinya karena terlambat ke kantor.

Dia bilang, pihaknya bukan tidak setuju dengan kebijakan KAI yang baru. Menurutnya, dia sangat mendukung perbaikan dan penataan sistem tiket tersebut. Tapi loketnya pembeliannya dan pintu masuknya harus diperbanyak untuk mengurangi antrean.

Di tempat yang sama, Kartika (25) mengatakan, baru kali ini dia harus antre lama membali tiket.  “Biasanya nggak antre gini. Ini seperti antre sembako murah,” katanya.
Kartika mengaku, setiap hari naik kereta rel listrik (KRL) menuju tempat kerjanya. Menurut dia, saat harga tiket Rp 8.000 saja penumpang sudah padat.

“Kalau sekarang bisa dua kali lipat padatnya. Dari antrean aja sudah keliatan,” ungkapnya.

Tak hanya harus mengantre panjang, para penumpang di Stasiun Depok pun terpaksa mengembalikan tiket single trip di loket. Pasalnya, rangkaian KRL tidak dapat diberangkatkan akibat gangguan sinyal. Penumpang yang kecewa pun mengembalikan tiket sambil marah-marah.

Direktur Utama PT KAI Ignatius Jonan membela diri. Dia membantah kalau pihaknya dinilai tidak siap menerapkan sistem modern ini. Dia menilai, panjangnya antrean karena banyak masyarakat yang membeli tiket single trip atau tiket sekali jalan.
”Kalau belinya multi trip ini tidak akan ada yang antre tiket,” kata Jonan.

Jonan mengatakan, untuk saat ini tiket multi trip hanya bisa diisi ulang di stasiun kereta. Namun, per September nanti penumpang juga bisa isi ulang di ATM seperti isi pulsa.

Terkait antrean penumpang di gate masuk maupun keluar, Jonan berjanji akan menambah 50 gate dalam tahun ini.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menyatakan, penggunaan tarif progresif dan tiket elektronik menjadi sejarah di dunia perkeretaapian khususnya KRL Commuter Line. Dia menilai, penggunaan e- ticketing akan meringankan pengguna KRL.

Mengenai sinyal kereta yang sering bermasalah, Dahlan mengaku, sudah menegur Direktur Utama PT Len Industri. Dahlan meminta Direksi PT Len Industri segera menyelesaikan permasalahan persinyalan kereta api pada tahun ini. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

UPDATE

Laksma TNI Salim Usul Konsep Hybrid Maritime Security dalam Forum CADTE di China

Minggu, 12 Juli 2026 | 00:01

Pengurus Dekranas Diminta Fokus Bina Kualitas Perajin buat Tembus Pasar Global

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:47

Kitab KH Zulfa Mustofa jadi Inspirasi Lanjutkan Tradisi Keilmuan Ulama

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:22

Kasus Korupsi Batu Bara Jangan Cuma Berhenti di Febrie Adriansyah!

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:55

Polri Bareng Jurnalis Trunojoyo Gelar Padel Bhayangkara Cup 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:45

Universitas Bakrie Ajak Pelajar Tingkatkan Kemampuan Komunikasi Digital

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:31

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Purbaya Terbitkan Aturan Baru, Permudah Impor Senjata hingga Bahan Baku Industri Pertahanan

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:42

Kasus Blackout Tanggung Jawab Kementerian ESDM

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:51

Ini Alasan Polri Limpahkan Berkas Perkara Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:20

Selengkapnya