Pemerintah akan terus memperbaiki akses jalan, terutama jalur kereta api menuju Cikarang Dry Port (CDP) di kawasan industri Jababeka.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa Hatta mengatakan, koneksi transportasi melalui akses jalur kereta api memang masih ada masalah.
“Cikarang Dry Port itu sangat baik dan menjadi murah kalau tidak ada double handling. Jadi begitu kontainer naik ke kereta, langsung ke pelabuhan dan masuk kapal,†ucap Hatta.
Pelabuhan Tanjung Priok belum bisa menangani kontainer secara penuh lantaran terkendala lahan. Selain itu, akses kereta api juga belum masuk ke area pelabuhan.
Hatta mengaku telah meminta kepada Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk mempercepat penyelesaikan perbaikan jalan di jalur menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Pasalnya, perbaikan ini menyebabkan penyempitan jalur aktif sehingga antrean semakin mengular. “Karena kenyataannya ruas tiga jalur jadi dua jalur karena terganggu perbaikan jalan,†kata Ketua Umum PAN ini.
Pengamat transportasi yang juga Ketua Forum Transportasi Laut Masyarakat Transportasi Indonesia (FTL-MTI) Ajiph R Anwar menilai, lumpuhnya Pelabuhan Tanjung Priok akibat pemogokan menjadi momen tepat untuk memaksimalkan CDP, pelabuhan daratan yang juga Kawasan Pelayanan Pabean Terpadu (KPPT).
Model CDP, menurut Ajiph, sudah banyak dikembangkan di berbagai negara dengan sebutan
Inland Container Depo (ICD). Keberadaan CDP akan lebih maksimal jika frekuensi pengiriman kontainer atau petikemas melalui rel kereta api dari Tanjung Priok ke CDP diperbesar.
“Frekuensi dari Tanjung Priok ke CDP masih bisa dimaksimalkan lagi. Misalnya, rangkaian gerbongnya ditambah, waktunya juga satu jam sekali,†ujarnya.
Ajiph menilai, pengangkutan petikemas melalui jalur darat seperti jalan tol sudah tidak ideal karena terkendala kemacetan yang luar biasa. Karena itu, penggunaan jalur kereta api merupakan pilihan paling rasional lantaran lebih tepat waktu, daya angkut lebih besar sekaligus bisa mengurai macet.
Dia mencontohkan, Pelabuhan Rotterdam di Belanda memiliki jalur khusus rel kereta api untuk transportasi petikemas yang tersambung ke kawasan perindustrian di Jerman.
Menurut Ajiph, saat ini arus petikemas Tanjung Priok sudah mencapai 6 juta
Twenty Foot Equivalent Units (TEUs), sementara luas lahan pelabuhan tidak bertambah.
“Sudah tepat jika beban itu perlahan dibagi ke CDP. Jika arus petikemas berpindah hingga 20 persen saja maka kapasitas CDP 2 juta TEUs bisa lebih maksimal lagi,†tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]