ilustrasi, Furnitur Dari Rotan
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat kebijakan pelarangan ekspor bahan baku rotan telah mendorong peningkatan ekspor funitur dan kerajinan hasil rotan.
Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengatakan, nilai ekspor produk jadi rotan terus mengalami peningkatan. Nilai ekspor produk jadi rotan sepanjang 2012 mencapai 202 juta dolar AS. Nilai ini lebih besar dibanding 2011 yang mencapai 182 juta dolar AS.
Angka tersebut terdiri dari 151 juta dolar AS untuk ekspor rotan funitur dan ekspor rotan kerajinan atau anyaman 51 juta dolar AS. Sedangkan ekpor produk rotan sepanjang Januari sampai Mei 2013 mencapai 86 juta dolar AS yang terdiri dari ekpor rotan funitur 67 juta dolar AS dan ekspor rotan kerajinan atau anyaman 18 juta dolar AS.
“Kebijakan pelarangan ekspor mentah rotan telah mendorong industri pengolahan rotan dalam negeri,†ujar Hidayat saat kunjungan kerja ke Barito Selatan, Kalimantan Tengah, dalam rangka Pemberian Bantuan Bangku Sekolah Rotan dalam rangka program Corporate Social Responsibility (CSR), kemarin.
Dia mengakui, ada beberapa tantangan dalam pengembangan industri rotan dalam negeri. Antara lain, habitat rotan mulai tergantikan dengan perkebunan dan pertanian.
Selain itu, masih ada upaya untuk melakukan penyelundupan bahan baku rotan pasca pelarangan ekspor bahan baku rotan.
Tantangan lainnya adalah belum berkembangnya industri pendukung dan sumber daya manusia (SDM) bidang desain.
“Kita bertahap mengurangi kegiatan penyelundupan itu,†kata politisi Partai Golkar itu.
Hidayat menambahkan, pihaknya juga membentuk Tim Penggerak Peningkatan Penggunaan Furnitur Rotan di Instansi Pemerintah dan Sekolah (TP3FR) untuk mendorong industri rotan dalam negeri.
Berdasarkan data Kemenperin, total dana CSR yang sudah dan sedang dimplementasikan untuk pengadaan rotan sekolah sudah mencapai Rp 4,3 miliar.
“Saya juga sudah mengeluarkan surat kepada para menteri dan gubernur untuk menggunakan funitur dari rotan untuk instansinya,†jelas Hidayat.
Dalam kesempatan ini, Hidayat dan rombongan juga mengunjungi dua sekolah, yaitu SDN 3 Bambulung, Barito Timur dan SD Mangaris, Barito Selatan untuk memberikan bantuan furnitur rotan.
Kemenperin bekerja sama dengan PT Multi Tambangjaya Utama (MTU), salah satu anak perusahaan PT Indika Energy, menyediakan dana CSR untuk program Comfort School With Rattan di Kalimantan Tengah.
Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang menegaskan, daerah mendukung kebijakan pemerintah pusat mengembangkan industri rotan.
“Dengan kebijakan pelarangan ekspor bahan baku mentah rotan, diharapkan dapat meningkatkan industri dalam negeri,†jelas Teras.
Bupati Barito Selatan M Farid Yusran menambahkan, sejak diberlakukannya pelarangan ekspor bahan baku rontan mentah, petani banyak mengeluh karena penyerapan industri dalam negeri belum maksimal.
“Barito Selatan merupakan 60 persen penghasil rotan di wilayah kalimantan,†ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]