Menjelang kenaikan harga BBM subsidi pertengahan bulan ini, kelangkaan sudah terjadi di daerah. Namun, pemerintah mengklaim pasokan aman.
Berdasarkan pantauan Rakyat Merdeka, kelangkaan dan antrean pembelian BBM subsidi masih terjadi di Kalimantan Tengah (Kalteng), khususnya di daerah Palangkaraya.
Antrean pembelian BBM subsidi terjadi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) RTA Milono. Terlihat antrean panjang kendaraaan yang akan membeli BBM subsidi sampai mengular 100 meter keluar. Antrean didominasi kendaraan pribadi dan truk.
Hal yang sama terjadi di pom bensin di jalan Imam Bonjol. Namun, antrean ini tidak begitu panjang seperti di SPBU RTA Milono. Di pom bensin ini antrean didominasi mobil pribadi.
Anang (35), sopir travel mengeluhkan kelangkaan dan antrean pembelian bensin subsidi hampir terjadi setiap hari. “Ini (antrean) sudah lama. Rencana pemerintah mau naikkan BBM malah menambah antrean,†keluhnya.
Bahkan, jika antrean terlalu panjang, Anang lebih memilih beli BBM di eceran yang harganya mencapai Rp 7.000 per liter. “Lebih baik beli di luar meski harganya sedikit mahal,†jelasnya.
Direktur BBM Badan Pengawasan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Djoko Siswanto mengatakan, kenaikan harga BBM subsidi disinyalir terjadi kelangkaan BBM subsidi karena akan terjadi lonjakan pembelian.
“Kemungkinan itu (kelangkaan) bakal terjadi, namun untuk pasokan akan ditambah,†ujar Anang.
Seperti diketahui, 17 Juni 2013 merupakan batas terakhir pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2013. Untuk itu, bila sesuai jadwal, kenaikan harga BBM akan dilakukan setelah APBN-P 2013 ditetapkan.
Dirjen Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Edy Hermantoro menjamin pasokan BBM subsidi menjelang kenaikan harga dalam kondisi aman. Saat ini ketersedian BBM cukup aman.
Edy mengatakan, alokasi BBM yang sebelumnya ditetapkan dalam APBN 2013 hanya 46,01 juta kiloliter (KL), sudah bertambah menjadi 48 juta KL dalam APBN-P 2013.
Menurut dia, penambahan kuota BBM tersebut sudah memperhitungkan kondisi riil penyaluran dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi ke depan.
“Alokasi 48 juta kiloliter sudah melihat perkembangan pertumbuhan ekonomi yang tinggi,†katanya.
Apalagi, dalam Undang-Undang Migas telah mengamanatkan pemerintah untuk menjamin ketersediaan BBM di masyarakat. Kendati begitu, pemerintah dan BPH Migas juga mengantisipasi kemungkinan penimbunan BBM jelang kenaikan harga.
Edy mengatakan, pemerintah juga sudah dan akan terus melakukan berbagai macam sosialisasi rencana kenaikan harga BBM jenis premium dan solar.
Senior Vice President Fuel Marketing and Distribution PT Pertamina Suhartoko menegaskan, pasokan BBM dalam kondisi aman. Tambahan kuota dari 46 juta KL ke 48 juta KL membuat pendistribusian kembali berjalan normal.
Ia juga mengatakan, Pertamina sudah mempersiapkan segala sesuatu menjelang kenaikan harga BBM. “Kami memperketat pengawasan agar masyarakat tidak membeli di luar kebutuhannya,†kata Suhartoko.
Meski begitu, dia mengakui bahwa distribusi BBM cenderung meningkat beberapa saat sebelum pemberlakuan kenaikan harga.
“Makin lama keputusan diambil, semakin naik konsumsinya,†kata Suhartoko. [ Harian Rakyat Merdeka ]