Menyusul rencana Pemerintah China mengeluarkan larangan impor batubara berkualitas rendah (low rank coal) ke negaranya, Pemerintah Indonesia menjamin kebijakan itu tidak akan mempengaruhi produksi batubara nasional.
Pasalnya, produksi batubara masih dapat diserap oleh pasar dalam negeri sebagai pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Selain itu, secara otomatis pengusaha batubara bisa mencari pasar lain seperti India, Korea Selatan dan beberapa negara di ASEAN.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menjelaskan, tidak masalah bagi Indonesia jika China akan menyetop kegiatan impor batubara low rank (rendah kalori).
“Setiap negara itu punya policy masing-masing, kita harus menghargai itu. Kita genjot untuk ekspor ke negara lain saja,†kata Wacik saat peresmian 19th Annual Coaltrans Asia 2013 di Nusa Dua, Bali, kemarin.
Hingga saat ini, kata Wacik, rencana tersebut tidak mempengaruhi pasar batubara nasional. Bahkan, angka produksi nasional tahun 2013 ditargetkan mencapai 391 juta ton.
Politisi Partai Demokrat itu menambahkan, China bukan satu-satunya negara yang menyerap produksi batubara di dalam negeri. Untuk itu, peran pengusaha melakukan diversifikasi ekspor cukup penting.
Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI) Supriatna Suhala mengatakan, meski belum ada kepastian terkait larangan impor batubara, namun para pengusaha tak gentar dengan larangan tersebut.
Menurut dia, jika larangan itu diberlakukan, maka ekspor akan dialihkan ke beberapa negara seperti Pakistan, Srilanka, India dan negara-negara ASEAN lainnya. Dia pun optimis produsen batubara Indonesia bisa menjajaki pasar di luar China
“Negara-negara Asia butuh power plant. Kita akan arahkan ke sana untuk mengoptimalkan ekspor batubara,†katanya.
Supriatna mengatakan, permintaan batubara dengan kalori rendah masih memiliki prospek cukup cerah. Pasalnya, ekspor setiap negara tergantung jarak dan kualitasnya.
Kepala Devisi Batubara PT PLN Hilmi Nazamudin menyatakan, kebutuhan perusahaan listrik terhadap batubara sebagai bahan bakar pembangkit terus meningkat dari tahun ke tahun. Untuk tahun ini, pertumbuhan listrik PLN diproyeksikan 9,4 persen.
“Jadi tak perlu khawatir, PLN pasti menyerap. PLN tetap membangun PLTU, jadi PLN tetap beli,†kata Hilmi.
Sebagai negara eksportir batubara terbesar, kata Hilmi, ekspor memang harus dikendalikan. Jika tidak, Indonesia justru menjadi negara importir. [Harian Rakyat Merdeka]