Berita

ilustrasi

Bisnis

Dana Converter Kit Rp 10 M Buat Bolak-Balik Ke Jepangx

Kebut Pengambilalihan 100 Persen Saham Inalum
SELASA, 04 JUNI 2013 | 08:46 WIB

Pemerintah menyiapkan dana Rp 10 miliar untuk melakukan perudingan pengambilalihan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dengan Jepang.

“Anggaran tersebut berasal dari pemotongan anggaran penyediaan converter kit untuk kegiatan konversi BBM ke BBG yang ada di Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dari Rp 206,8 miliar dipotong Rp 106,05 miliar,” ujar Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat di DPR, kemarin.

Sedangkan sisi anggaran Rp 90,75 miliar digunakan untuk pengadaan 4.000 unit converter kit dan sisa Rp 10 miliarnya digunakan untuk memfasilitasi perundingan pengambilaihan Inalum dari Jepang.


Kemenperin bertekad akan menyelesaikan masalah Inalum hingga batas 31 Oktober 2013. “Sudah pasti tidak ada pilihan lain, kami akan mengalihkan saham (PT Inalum) ke Indonesia 100 persen,” tuturnya.

Saat ini, pihaknya sedang dalam tahapan terakhir menyelesaikan masalah itu dan memberikan intepretasi terhadap harga yang akan disepakati bersama Indonesia, karena Inalum merupakan aset negara.

Dana kepemilikan saham, menurut Hidayat, berasal dari APBN. Dia mengaku Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sedang mengaudit aset perusahaan Inalum.

Namun, saat ini masih terdapat selisih perhitungan yang dikeluarkan BPKP dengan yang dihitung Jepang. Angka selisihnya lebih dari 100 juta dolar AS. Namun, politisi Golkar itu optimis masalah tersebut bisa diselesaikan secara pendekatan bisnis.

Hidayat menegaskan, pihaknya sudah menyiapkan Rp 7 triliun untuk mengambil alih Inalum dari Jepang. Dia menargetkan evaluasi dan pengambilalihan selesai sebelum Oktober 2013. Kemudian pada Oktober 2013 perundingan dapat diselesaikan.

Hidayat mengatakan, setelah masalah kepemilikan saham 100 persen diselesaikan, Inalum akan menjadi BUMN.

Dirjen Kerja Sama Industri Internasional Kemenperin Agus Tjahajana mengatakan, anggaran Rp 10 miliar itu untuk bolak-balik ke Jepang melakukan perundingan.

Menurutnya, dalam proses perundingan memang membutuhkan anggaran yang banyak.
Indonesia juga akan melakukan perundingan lagi dengan Jepang awal Juli. “Awal Juli kita akan bertemu lagi dengan Jepang. Kita memang menghindari perundingan saat puasa,” cetusnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

UPDATE

Teddy dan Fadli Zon Saling Bagi Tugas saat Kunjungan PM Modi

Minggu, 12 Juli 2026 | 10:16

Penegak Hukum Lebih Baik Saling Bongkar Kasus daripada Lindungi Koruptor

Minggu, 12 Juli 2026 | 10:10

Momen Delegasi RI Ziarah ke Makam Ali Khamenei di Mashhad

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:47

Pesan Prabowo ke Aparat Bukan Teguran Biasa Melainkan Instruksi Moral

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:34

Bahlil Bidik Penambahan Kursi Golkar di 2029

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:16

KPK Hormati Proses Hukum Kasus Febrie Adriansyah

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:10

Konflik Memanas, AS Bombardir Iran Lagi setelah Selat Hormuz Ditutup

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:50

Penanganan Kasus Korupsi Jangan Ganggu Kekompakan Polri-Kejagung

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:33

Kolaborasi UI-Tsinghua Buka Jalan Produksi Vaksin Dengue Buatan Indonesia

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:15

Kasus Febrie Harus Diselesaikan Lewat Jalur Hukum Bukan Lobi Politik

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:07

Selengkapnya