Berita

Bisnis

Apindo Kritik Pemerintah Perpanjang Moratorium Hutan

JUMAT, 31 MEI 2013 | 20:52 WIB | LAPORAN:

Pemerintah dituntut lebih cekatan dalam meneliti area hutan yang masih bisa digunakan dan yang diputuskan penghentian eksplorasinya melalui moratorium. Hal ini perlu dilakukan agar dunia usaha yang memanfaatkan hutan tetap bisa berjalan dan memberikan kontribusi untuk perekonomian.

"Ini harus bisa diteliti lagi dengan benar, agar bisnis juga bisa berjalan lagi," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi dalam pernyataan tertulis yang diterima wartawan, Jumat (31/5).

Perpanjangan moratorium hutan untuk dua tahun kedepan, kata Sofjan, memunculkan keberatan dari kalangan pengusaha terutama yang bergerak di bidang kelapa sawit. Meski, pada dasarnya moratorium dilakukan pemerintah untuk menjaga kelestarian hutan.


"Ada ketidakpuasan yang muncul atas keputusan pemerintah tersebut," jelas Sofjan.

Pemerintah, lanjut Sofjan, perlu lagi melakukan inventarisir area hutan dengan benar. Area mana saja yang perlu dibatasi dan yag masih bisa dikembangkan untuk pertanian dan bisnis lain. Hal ini agar pengembangan usaha, seperti kelapa sawait yang sedang menjadi primadona juga tidak terganggu.

"Ada baik dan buruknya, tidak melulu mereka  merusak lingkungan," tuturnya.

Sekalipun begitu, dia tak menampik jika masih ada kalangan pengusaha yang justru tidak benar dalam memanfaatkan konsensi lahannya. Misalnya dengan mengkonsensikan lagi, lahan-lahan yang dimiliknya.

Seperti diketahui, pemerintah belum lama ini melanjutkan kebijakan penundaan pemberian izin baru hutan alam dan lahan gambut yang berada di hutan konservasi, hutan lindung dan produksi untuk jangka waktu 2 (dua) tahun ke depan kebijakan ini tertuang melalui Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2013 yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 13 Mei 2013. [dem]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

UPDATE

Teddy dan Fadli Zon Saling Bagi Tugas saat Kunjungan PM Modi

Minggu, 12 Juli 2026 | 10:16

Penegak Hukum Lebih Baik Saling Bongkar Kasus daripada Lindungi Koruptor

Minggu, 12 Juli 2026 | 10:10

Momen Delegasi RI Ziarah ke Makam Ali Khamenei di Mashhad

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:47

Pesan Prabowo ke Aparat Bukan Teguran Biasa Melainkan Instruksi Moral

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:34

Bahlil Bidik Penambahan Kursi Golkar di 2029

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:16

KPK Hormati Proses Hukum Kasus Febrie Adriansyah

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:10

Konflik Memanas, AS Bombardir Iran Lagi setelah Selat Hormuz Ditutup

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:50

Penanganan Kasus Korupsi Jangan Ganggu Kekompakan Polri-Kejagung

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:33

Kolaborasi UI-Tsinghua Buka Jalan Produksi Vaksin Dengue Buatan Indonesia

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:15

Kasus Febrie Harus Diselesaikan Lewat Jalur Hukum Bukan Lobi Politik

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:07

Selengkapnya