Berita

ilustrasi

Bisnis

Dua Menteri Sidak Ke Kandang Sapi, Harga Daging Tetap Mahal

Impor Kurang 8 Ribu Ton, Pasokan Untuk Bulan Puasa Belum Terjamin
RABU, 29 MEI 2013 | 10:02 WIB

Gara-gara harga daging masih tinggi, Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan dan Menteri Pertanian (Mentan) Suswono menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke kandang penggemukan daging di Tangerang, Banten, kemarin.

Rombongan tiba pukul 07.30 WIB di perusahaan penggemukan sapi milik PT Tanjung Unggul Mandiri (TUM) di Jalan Tanjung Burung, Desa Kandang Genteng Teluk Naga, Tangerang, Banten. Dalam rombongan ikut serta Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Srie Agustina dan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Bachrul Chairi.

Tiba di lokasi, rombongan disambut pemilik PT TUM Pudjantoro Hasan. Selain ke perusahaan itu, rombongan menteri juga sidak ke PT Lembu Jantan Perkasa (LJP) di Serang, Banten. LJP merupakan peternakan penggemukan dan pembibitan sapi potong yang ada di Jalan Raya Serang. Sidak kali ini untuk memeriksa kesiapan pengusaha memenuhi pasokan daging menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2013.


Menteri Gita Wirjawan yang mengenakan kemeja putih berbalut jaket hitam mengatakan, sidak ini untuk menindaklanjuti terbitnya peraturan baru terkait percepatan pelaksanaan importasi hewan dan produk hewan, Senin (2/5), yang disepakati Kemendag dan Kementan.

“Ini kita lakukan untuk menilai komitmen para pengusaha dan pemangku kepentingan urusan daging sapi, agar dalam waktu dekat ini bisa terjadi stabilitas harga daging sapi,” ujar Gita.

Kendati begitu, dia belum bisa memastikan harga daging akan stabil menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Saat ini pihaknya sedang mengevaluasi realisasi impor daging pada semester I yang baru mencapai 11 ribu ton. Padahal berdasarkan target ditetapkan 19 ribu ton, sehingga masih ada kuota 8.000 ton yang wajib dipenuhi sampai bulan depan.

“Nanti kita lihat kenapa jatah yang 19 ribu ton ini tidak dioptimalkan. Apakah penjual menahan untuk Lebaran atau sengaja tidak mengoptimalkan sehingga sengaja menahan harga,” ujarnya.

Menurut Gita, pemerintah ingin harga daging sapi kembali pada kisaran Rp 75 ribu per kg. Ini sesuai amanat Presiden SBY. Untuk diketahui, saat ini harga daging sapi masih bertengger pada kisaran Rp 90-100 ribu per kg.

Menurutnya, jika pasokan daging telah berhasil ditingkatkan sebelum Ramadhan dan menjelang Lebaran, maka harga dapat kembali stabil. Pihaknya saat ini mempercepat kuota impor sapi dan daging guna menjamin stabilisasi harga menjelang Ramadhan.

Gita memaparkan, total kuota impor daging pada 2013 sebesar 80 ribu ton. Dengan rincian 32 ribu ton untuk daging yang sudah dipotong, 48 ribu ton untuk daging sapi bakalan. Sementara impor untuk sapi bakalan telah dialokasikan sebesar 283 ribu ekor.

Namun, karena akan ada percepatan pada kuartal III, maka masih ada waktu satu bulan untuk memasok tambahan menjelang Ramadhan.

”Intinya sapi bakalan tahun 2013 sebanyak 48 ribu ton, kita anggap per kuartal 12 ribu ton maka itu yang akan diakselerasi dari kuartal ketiga ke kedua,” tandas Gita.

Namun, Suswono mencurigai importir sengaja menahan realisasi impor demi mempertahankan harga daging tetap tinggi. Alasannya, realisasi pemasukan impor daging untuk kuota hingga semester pertama tahun ini masih tersisa 8.000 ton dari jatah seharusnya 19.000 ton.

“Pemasukan semester I kita berikan alokasi 19.000 ton, faktanya yang baru masuk 11.000 ton, kurang 8.000 ton sampai Juni. Nah, ini apakah untuk menghadapi Lebaran atau sengaja tidak mengoptimalkan untuk menahan harga tinggi. Kita akan kaji, Kemendag itu nanti wilayahnya,” jelas politisi PKS ini.

Dia juga meminta Pemda berperan aktif menjaga agar sapi betina produktif tidak dipotong. Alasannya, saat ini banyak daerah yang membiarkan pemotongan sapi betina produktif demi mengejar retribusi atau pendapatan dari rumah potong hewan (RPH).

“Kami minta Pemda tidak hanya mengejar retribusi (pendapatan daerah) dan membiarkan sapi betina produktif dipotong. Apalagi sesuai undang-undang sapi betina produktif dilarang dipotong,” katanya. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

UPDATE

Teddy dan Fadli Zon Saling Bagi Tugas saat Kunjungan PM Modi

Minggu, 12 Juli 2026 | 10:16

Penegak Hukum Lebih Baik Saling Bongkar Kasus daripada Lindungi Koruptor

Minggu, 12 Juli 2026 | 10:10

Momen Delegasi RI Ziarah ke Makam Ali Khamenei di Mashhad

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:47

Pesan Prabowo ke Aparat Bukan Teguran Biasa Melainkan Instruksi Moral

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:34

Bahlil Bidik Penambahan Kursi Golkar di 2029

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:16

KPK Hormati Proses Hukum Kasus Febrie Adriansyah

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:10

Konflik Memanas, AS Bombardir Iran Lagi setelah Selat Hormuz Ditutup

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:50

Penanganan Kasus Korupsi Jangan Ganggu Kekompakan Polri-Kejagung

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:33

Kolaborasi UI-Tsinghua Buka Jalan Produksi Vaksin Dengue Buatan Indonesia

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:15

Kasus Febrie Harus Diselesaikan Lewat Jalur Hukum Bukan Lobi Politik

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:07

Selengkapnya