Berita

ilustrasi

Bisnis

Bangun 14 Pabrik Garam, KKP Rogoh Rp 2,8 Miliar

SELASA, 28 MEI 2013 | 09:32 WIB

Dengan mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Masyarakat (Iptekmas) Garam, Kementerian Perikanan dan Kelautan (KKP) merogoh kocek hingga Rp 2,8 miliar, guna meningkatkan produksi dan mutu garam di masyarakat melalui usaha mandiri.

Menurut Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan Pesisir Balitbang KKP Budi Sulistiyo, dana tersebut digunakan untuk membangun sekitar 14 pabrik produksi garam percontohan di sejumlah daerah seperti Pati, Rembang, Tuban, Indramayu, Cirebon, Pamekasan dan Sumenep.

“Kebetulan program ini sudah ada sejak 2011-2012, di mana kami mencari beberapa wilayah yang memiliki potensi produksi garam secara mandiri melalui penelitian dari Balitbang,” terang Budi di pabrik garam Samudra di Lamongan, Jawa Timur, kemarin.


Masing-masing wilayah tersebut lanjut Budi, mendapatkan gelontoran dana sekitar Rp 200 juta yang dimanfaatkan untuk penelitian dan pembelian mesin pembuatan garam.

Salah satu pabrik dari hasil Iptekmas Garam KKP ini yakni pabrik olah garam yodium yang memiliki label Garam Samudra. Pabrik ini dikelola Pondok Pesantren Sunan Drajat di Lamongan, Jawa Timur.

Saat ini pabrik tersebut telah memproduksi sekitar 2 ton garam per hari dengan omzet rata-rata Rp 80-85 juta per bulan.

“Selain memberdayakan serta meningkatkan pendapatan masyarakat daerah, pembangunan pabrik garam ini juga dalam rangka mewujudkan target produksi garam rakyat tahun 2013 sebanyak 1,85 juta ton dan di 2014 sekitar 3,30 juta,” ujarnya.

Pengelola sekaligus pemilik pabrik Garam Samudra Biati Ahwarumi mengatakan, usaha yang bermula dari penelitian ini sudah dikelola secara mandiri sejak 2012. Selain memproduksi garam konsumsi, ke depan pihaknya juga melakukan pengembangan produksi untuk garam industri.

“Garam yodium produksi kami sudah sesuai standar nasional dengan kadar Natrium Khlorida (NaCl) mendekati 95 persen. Dengan penambahan alat baru, kami menargetkan produksi garam bisa mencapai 10 ton per hari,” ucapnya.

Sembari menunggu peningkatan kapasitas produksi, pihaknya juga sedang mengurus sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan sertifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Untuk urus perizinan, barcode dan lainnya, kami dibantu dengan Fakultas Hukum Universitas Hang Tuah,” terang Biati. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

UPDATE

Teddy dan Fadli Zon Saling Bagi Tugas saat Kunjungan PM Modi

Minggu, 12 Juli 2026 | 10:16

Penegak Hukum Lebih Baik Saling Bongkar Kasus daripada Lindungi Koruptor

Minggu, 12 Juli 2026 | 10:10

Momen Delegasi RI Ziarah ke Makam Ali Khamenei di Mashhad

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:47

Pesan Prabowo ke Aparat Bukan Teguran Biasa Melainkan Instruksi Moral

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:34

Bahlil Bidik Penambahan Kursi Golkar di 2029

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:16

KPK Hormati Proses Hukum Kasus Febrie Adriansyah

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:10

Konflik Memanas, AS Bombardir Iran Lagi setelah Selat Hormuz Ditutup

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:50

Penanganan Kasus Korupsi Jangan Ganggu Kekompakan Polri-Kejagung

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:33

Kolaborasi UI-Tsinghua Buka Jalan Produksi Vaksin Dengue Buatan Indonesia

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:15

Kasus Febrie Harus Diselesaikan Lewat Jalur Hukum Bukan Lobi Politik

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:07

Selengkapnya