Berita

PT Dirgantara Indonesia (PTDI)

Bisnis

PTDI Genjot Penjualan Pesawat Rp 3,47 triliun

SENIN, 20 MEI 2013 | 09:56 WIB

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) memproyeksikan peningkatan nilai kontrak untuk pembuatan pesawat terbang, service pesawat, pemesanan komponen dan pembuatan alat utama sistem senjata (alutsista) melebihi Rp 4 triliun.

“Proyeksi kami senilai Rp 4,24 triliun. Harapannya, Rp 3,89 triliun merupakan pemesanan dan pembuatan pesawat. Sisanya Rp 342 miliar merupakan hasil bisnis service pesawat, pemesanan komponen dan alutsista engineering,” kata Direktur Bidang Kualitas yang juga Manager Komunikasi PTDI Sonny Saleh Ibrahim.

Sonny berharap 50 persen nilai kontrak Rp 4,24 triliun itu dari beberapa negara Asia Pasifik. Tahun ini, proyeksi komposisi kontrak tidak sama dengan tahun lalu.


Pada 2012, mayoritas kontrak berasal dari dalam negeri. Nilai kontrak Rp 4,24 triliun itu merupakan kontribusi pembuatan pesawat CN 295, NC 212, CN 235 serta helikopter jenis Bell atau Puma.

“Untuk lainnya seperti aircraft service, harapannya Rp 120 miliar. Lalu, pembuatan komponen pesawat komersil Rp 150 miliar. Sedangkan alutsista engineering Rp 72 miliar,” paparnya.

Sonny mengatakan, pada 2012 total nilai kontrak PTDI mencapai Rp 7,9 triliun, yaitu berupa pengadaan pesawat bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tahun lalu, kontrak terbesar merupakan pengadaan pesawat CN dan helikopter yang nilainya sekitar Rp 7,5 triliun. Kemudian, PTDI memperoleh kontrak sektor lainnya yang bernilai Rp 385 miliar.

“Kontrak Rp 385 miliar itu bersumber pada aircraft service Rp 104 miliar, komponen pesawat komersil Rp 216 miliar dan alutsista engineering Rp 65 miliar,” ujarnya.

Meski proyeksi kontrak tahun ini lebih kecil dari realisasi 2012, PTDI menargetkan pertumbuhan penjualan tahun ini. Perseroan memperkirakan penjualan pesawat terbang serta jasa lainnya selama 2013 senilai Rp 3,47 triliun.
“Jumlah itu melebihi nilai penjualan 2012, yang angkanya Rp 2,7 triliun,” kata Sonny.

Naiknya nilai penjualan selama 2013, salah satunya karena realisasi pemesanan pesawat pada kontrak tahun sebelumnya. Tahun ini 87 persen penjualan merupakan hasil kontrak tahun sebelumnya. Sisanya bersumber pada pembayaran down payment kontrak baru.

Tahun ini pula PTDI segera menuntaskan pembuatan 18 unit pesawat terbang dan helikopter untuk TNI, hasil kontrak tahun lalu. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

UPDATE

Teddy dan Fadli Zon Saling Bagi Tugas saat Kunjungan PM Modi

Minggu, 12 Juli 2026 | 10:16

Penegak Hukum Lebih Baik Saling Bongkar Kasus daripada Lindungi Koruptor

Minggu, 12 Juli 2026 | 10:10

Momen Delegasi RI Ziarah ke Makam Ali Khamenei di Mashhad

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:47

Pesan Prabowo ke Aparat Bukan Teguran Biasa Melainkan Instruksi Moral

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:34

Bahlil Bidik Penambahan Kursi Golkar di 2029

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:16

KPK Hormati Proses Hukum Kasus Febrie Adriansyah

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:10

Konflik Memanas, AS Bombardir Iran Lagi setelah Selat Hormuz Ditutup

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:50

Penanganan Kasus Korupsi Jangan Ganggu Kekompakan Polri-Kejagung

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:33

Kolaborasi UI-Tsinghua Buka Jalan Produksi Vaksin Dengue Buatan Indonesia

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:15

Kasus Febrie Harus Diselesaikan Lewat Jalur Hukum Bukan Lobi Politik

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:07

Selengkapnya