Pemerintah menggalakan pengembangan energi alternatif. Melalui beberapa regulasi, ditargetkan pada 2025 energi baru terbarukan (EBT) menyumbang 17 persen dari total sumber energi nasional.
Direktur Konstruksi dan Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero) Nasri Sebayang mengungkapkan, Indonesia sering mengalami masalah terkait energi.
Kondisi Indonesia yang sudah menjadi net importir minyak bumi, membuat subsidi BBM semakin membebani anggaran. Ketersediaan listrik pun perlu diperkuat.
“Sebagian pembangkit listrik di Indonesia dipasok oleh BBM. Karena itu, pemerintah sedang rajin mengembangkan energi alternatif atau energi baru terbarukan,†ujar Nasri usai menjadi inspirator di acara BoD Goes to School di SMA Methodis 1, Medan, Sumatera Utara, kemarin.
Menurut dia, salah satu sumber energi alternatif yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia adalah air atau hidro.
“Potensi sumber energi hidro di Indonesia masih sangat besar. Sayang, hanya sedikit yang sudah dikembangkan,†ucapnya.
Saat ini, kapasitas energi hidro yang beroperasi di Indonesia baru 3.783 megawatt (MW).
“Tapi nggak semuanya milik PLN. Padahal, potensi pengembangan energi hidro di Indonesia saat ini mencapai 75.000-76.000 MW, sangat besar. Batubara kan suatu saat juga akan habis,†tuturnya.
Nasri mengatakan, ada tiga kendala yang dihadapi dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) untuk energi hidro. Pertama, masalah lingkungan, yakni terkait dampak pembangunan PLTA terhadap lingkungan sosial dan budaya karena harus memindahkan penduduk jika ingin membangun PLTA hidro besar.
Kedua, masalah engineering. Membangun PLTA hidro harus dibuat bendungan yang besar, sehingga banyak masalah teknologi yang harus dikuasai.
Ketiga, butuh biaya yang besar, bisa mencapai 1.000-1.500 dolar AS per kwh jika kondisi alamnya bagus, arus sungai yang besar. Tapi kalau untuk yang lain (kondisi alam kurang baik dan arus sungai kurang deras), biayanya bisa mencapai 2.000 dolar AS per KW.
Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, saat ini target optimalisasi sumber daya alternatif untuk pembangkit listrik telah menjadi misi dari seluruh jajaran EBTKE.
“Kami targetkan ke depannya sumber listrik di Indonesia akan berasal dari sumber daya terbarukan ini. Target terdekat ya 23 persen di tahun 2023,†kata Rida. [Harian Rakyat Merdeka]