Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Ekspor RI Tertinggal Jauh Negeri Tetangga

Perusahaan Pelat Merah Diminta Rebut Pasar ASEAN
JUMAT, 17 MEI 2013 | 08:24 WIB

Pemerintah mengajak semua kalangan bekerja keras meningkatkan daya saing untuk menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) tahun 2015. Pasalnya, bila dibandingkan negara lain, daya saing Indonesia masih tertinggal jauh.

Sekjen Kementerian Perdagangan Gunaryo mengungkapkan, kontribusi kinerja ekspor Indonesia terhadap PDB (produk domestik bruto) hanya 20 persen. Nilai tersebut jauh lebih rendah bila dibandingkan Malaysia 79,3 persen dan Thailand sebesar 66,2 persen.

“Potret kinerja ekspor Indonesia terhadap PDB masih minim. Oleh sebab itu harus dioptimalkan lagi,” kata Gunaryo saat memberikan sambutan dalam acara bertajuk Program edukasi publik mengenai AEC 2015 di Hotel Ritz Carlton Jakarta, kemarin.


Menurut Gunaryo, minimnya kontribusi tersebut karena Indonesia selama ini lebih banyak mengekspor barang mentah yang minim nilai tambah.

Dia juga mengungkapkan, sektor industri manufaktur Indonesia terendah dibandingkan negara ASEAN lainnya. Ekspor manufaktur ke pasar ASEAN hanya menyumbang 37,5 persen.

Namun demikian, kata Gunaryo, minimnya nilai ekspor itu bukan berarti nilai perdagangan Indonesia secara umum buruk karena orientasi pasar Indonesia selama ini banyak ke luar ASEAN seperti ke Amerika Serikat, China dan Jepang.

Gunaryo menyampaikan harapan khusus kepada BUMN. Dia meminta, perusahaan pelat merah bisa membaca peluang dan menghadapi tantangan persaingan pasar AEC.

Dia melihat, beberapa BUMN memiliki potensi besar merebut pasar. Sebab, produk yang mereka hasilkan sudah mendapat pengakuan negara ASEAN lain.

BUMN itu antara lain PT Dirgantara Indonesia dan PT Pindad, yang produknya sudah dibeli Malaysia dan Singapura. Lalu PT Wijaya Karya, perusahaan konstruksi ini diminta membangun jembatan di Brunei Darusalam dan proyek jalan di Timor Leste.

“Mereka sangat memperhitungkan kemampuan perusahaan BUMN kita. Kami mengharapkan BUMN mampu melihat pasar,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Enny Sri Hartati berharap, pemerintah mengevaluasi keikutrsertaan AEC. Karena dari perhitungannya, secara umum Indonesia belum siap.

“Perhitungan saya, Singapura negara yang akan banyak dapat keuntungan dari ASEAN Economic Community. Karena mereka memiliki struktur industri dan perdagangan yang baik. Saya lihat kita lebih dominan hanya akan jadi pasar saja,” katanya.

Sri mengkhawatirkan keberlangsungan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Menurutnya, harus diakui produk UMKM masih lemah.
“Tidak ada perdagangan bebas saja, UMKM kalah sama produk impor padahal jumlahnya dibatasi,” imbuhnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menyampaikan pandangan sama. “Saya tidak percaya kalau ada yang bilang kita sudah siap,” kata Sofjan.

Diakuinya, ada sejumlah sektor usaha yang sudah siap seperti sektor pengelolaan kekayaan alam. Tetapi bagaimana dengan sebagian besar sektor lain yang belum siap? Menurutnya, idealnya memang semua bekerja keras mempersiapkan diri.
Namun, Sofjan melihat, saat ini pemerintah belum berbuat banyak membantu pengusaha agar bisa meningkatkan daya saing.

Sebelumnya, Sofjan meminta, perdagangan bebas tidak dilepas sebebas-bebasnya. Dia ingin pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melindungi keberlangsungan usaha dalam negeri.

Sofjanmengusulkan skema Join venture. Dunia usaha asing yang masuk ke Indonesia diharuskan bekerja sama dengan perusahaan lokal. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

UPDATE

Teddy dan Fadli Zon Saling Bagi Tugas saat Kunjungan PM Modi

Minggu, 12 Juli 2026 | 10:16

Penegak Hukum Lebih Baik Saling Bongkar Kasus daripada Lindungi Koruptor

Minggu, 12 Juli 2026 | 10:10

Momen Delegasi RI Ziarah ke Makam Ali Khamenei di Mashhad

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:47

Pesan Prabowo ke Aparat Bukan Teguran Biasa Melainkan Instruksi Moral

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:34

Bahlil Bidik Penambahan Kursi Golkar di 2029

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:16

KPK Hormati Proses Hukum Kasus Febrie Adriansyah

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:10

Konflik Memanas, AS Bombardir Iran Lagi setelah Selat Hormuz Ditutup

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:50

Penanganan Kasus Korupsi Jangan Ganggu Kekompakan Polri-Kejagung

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:33

Kolaborasi UI-Tsinghua Buka Jalan Produksi Vaksin Dengue Buatan Indonesia

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:15

Kasus Febrie Harus Diselesaikan Lewat Jalur Hukum Bukan Lobi Politik

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:07

Selengkapnya