gas elpiji 3 kilogram (kg)
Setelah kelangkaan solar, saat ini masyarakat dipusingkan dengan kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (kg). Bahkan, di beberapa daerah si tabung melon itu hilang dari pasaran.
Jajang (30), pedagang gorengan yang berjualan di daerah Cimanggis, Depok, sudah sepekan kesulitan membeli gas elpiji 3 kg.
“Wah, mas, sekarang susah kalau cari gas elpiji 3 kg. Kalaupun ada harganya mahal,†ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Jajang mengaku hampir semua agen dan warung yang biasanya jual elpiji 3 kg kehabisan stok. Meskipun ada, harganya bisa sampai Rp 17 ribu per tabung.
Sementara setiap hari dia membutuhkan elpiji 3 kg sebanyak 2 tabung.
Penjual nasi goreng di Kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan juga mengeluhkan kelangkaan elpiji 3 kg. Ahmad (34), kesulitan mencari elpiji 3 kg, padahal usahanya sangat tergantung dengan elpiji itu.
“Gimana kita mau jualan kalau gasnya nggak ada,†keluhnya.
Dengan harganya yang mahal, dia juga terpaksa menaikkan harga jual. Biasanya, per porsi nasi goreng dijual Rp 8.000, sekarang naik jadi Rp 10.000.
Kelangkaan distribusi tabung elpiji 3 kg di tingkat agen dan pangkalan di Depok sudah berlangsung selama satu bulan terakhir. Pemilik agen gas di Jalan Raden Saleh, Sukmajaya, Depok, Khairun mengatakan, masyarakat kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg karena dampak rayonisasi yang dilakukan Pertamina.
Sebelumnya, pangkalan atau agen yang ada di Depok dapat menerima pasokan gas dari Jakarta dan Bogor. Kini setelah adanya penghapusan rayonisasi, maka pangkalan tersebut tidak lagi mendapatkan tabung dari Jakarta dan Bogor.
Sementara agen gas di Depok tidak bisa menyuplai pangkalan elpiji itu.
Kelangkaan elpiji juga terjadi di wilayah Jambi dan Batam. Di wilayah Jambi, kelangkaan terjadi di Kecamatan Kumpeh Ulu dan Muara Kumpeh. Harga tabung melon di sana mencapai Rp 28.000 hingga Rp 30.000 per tabung dan stoknya sudah kosong. Hal yang sama terjadi di kota Jambi.
Sementara di Batam, Kepulauan Riau dilaporkan, kelangkaan membuat harga elpiji 3 kg melonjak hingga 46 persen. Kelangkaan sudah terjadi lebih dari dua pekan. Harga elpiji 3 kg di Batam rata-rata Rp 20.000 per tabung. Padahal, biasanya hanya dijual Rp 14.000 per tabung.
Selain itu, kelangkaan elpiji juga terjadi di wilayah Cimahi Bandung, Palembang, Sumatera Selatan dan Yogyakarta.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyayangkan terjadinya kelangkaan elpiji 3 kg. Dia mengaku, Pertamina telah melaporkan adanya peningkatan penggunaan elpiji subsidi tabung 3 kg di kuartal pertama tahun ini.
Karena itu, dia meminta Pertamina segera menangani kelangkaan elpiji 3 kg di beberapa daerah. Jangan sampai kelangkaan itu menyusahkan masyarakat.
Vice President Corporate Communication Pertamina Pertamina Ali Mundakir mengatakan, pihaknya telah menyalurkan elpiji 3 kg hingga April 2013 sebanyak 1,37 juta metrik ton. Itu artinya, realisasi penyaluran elpiji bersubsidi itu mencapai 6,8 persen di atas kuota dari yang ditargetkan 1,29 juta metrik ton.
Menurut Ali, kuota elpiji 3 kg yang ditetapkan dalam APBN 2013 sebanyak 3,86 juta metrik ton. Kuota itu dialokasikan untuk penyaluran paket perdana elpiji 3 kg dalam program konversi minyak tanah ke elpiji 3 kg yang dianggarkan untuk tahun ini, dan penyaluran elpiji 3 kg bagi masyarakat yang sudah mengakses program konversi itu.
“Tingginya penyaluran elpiji 3 kg, di antaranya disebabkan tingginya permintaan masyarakat, terutama yang berada di daerah yang baru terkonversi. Masyarakat diimbau tidak membeli secara berlebihan karena Pertamina telah menyalurkan elpiji 3 kg ke masyarakat dengan cukup,†ungkapnya.
Selain itu, Pertamina juga menerapkan monitor ketat terhadap agen-agen elpiji 3 kg untuk memastikan penyaluran dilakukan tepat sasaran. [Harian Rakyat Merdeka]