Kalangan ekonom mencium adanya kejanggalan di balik penilaian lembaga pemeringkat investasi internasional terhadap iklim investasi Indonesia. Tapi para pengusaha justru yakin penilaian asing tersebut bukti ekonomi terganggu.
Lembaga pemeringkat invesÂtasi internasional, Standard and Poors (S&P) baru-baru ini mereÂvisi outlook perekonomian IndoÂnesia dari positif menjadi stabil.
Revisi itu dilakukan karena S&P melihat perkembangan ekoÂÂnomi dinilai mengalami penuruÂnan. S&P kini menemÂpatkan SoveÂreign Credit Rating IndoneÂsia pada peringkat BB+ untuk jangÂka panjang dan B untuk jangka pendek. Rating terÂsebut satu tingkat di bawah BBB- atau biasa disebut investment grade rating (layak investasi).
Dengan kata lain, Indonesia makin menjauh dari peringkat investment grade. Tidak lama kemudian, lembaga pemeringkat lain Moody’s InvesÂtors Service mengÂancam akan memangkas outlook utang IndoÂnesia.
Dengan kata lain, Indonesia makin menjauh dari peringkat
investment grade. Tidak lama kemudian, lembaga pemeringkat lain Moody’s InvesÂtors Service mengÂancam akan memangkas
outlook utang IndoÂnesia.
Kedua lembaga itu memiliki pandangan yang sama, kondisi fiskal Indonesia tidak sehat akibat ketidakjelasan kebijakan kenaiÂkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Pengamat ekonomi Yanuar Rizky mengatakan, penilaian peÂmeringkat internasional tersebut tidak perlu dikhawatirkan karena investasi di Indonesia sejauh ini cukup bagus.
“Justru kalau penilaian itu terus ditanggapi malah akan memÂpengaruhi investor karena seÂolah-olah benar ekonomi kita berÂmaÂsalah,†jelasnya.
Dia mengemukakan, alasan ketidakÂjeÂlasan kebijakan BBM akan mengÂÂgangu iklim investasi tiÂdak kongkret. Yanuar curiga, peniÂlaian tersebut disampaikan berÂÂtujuan untuk menggangu iklim investasi agar beralih ke negara tertentu.
Untuk itu dia meminta, peÂmeÂrintah tetap tenang dan mandiri di daÂlam mengambil kebijakan. JaÂngan terpengaruh dengan peniÂlaian lembaga pemeringkat inÂvesÂtasi asing yang belum tentu benar. Dia menyakinkan, tidak ada neÂgara yang hancur ekonoÂminya gara-gara mendapat peÂniÂlain negatif lembaga peÂmeÂringÂkat.
“Lembaga pemeringkat suÂdah ada sejak tahun 1994. Dan sejak itu tidak ada sejarahnya, peÂnilaian menghancurkan ekoÂnomi sebuah negara,†imbuhnya.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri HarÂtati memiliki pandangan yang sama. Dia yakin penilaian lemÂbaga pemeringkat investasi tidak akan mempengaruhi iklim invesÂtasi. “Potensi pertumbuhan inÂvesÂtasi ekonomi Indonesia sudah cuÂkup membaik bahkan di atas China. Itu penilaian subÂjekÂtif, tiÂdak perlu dikhaÂwatirÂkan,†kataÂnya.
Dia menuturkan, mungkin saja ketidakjelasan kebijakan BBM mempengaruhi iklim investasi tetapi hanya sedikit. Mereka hanya menunggu saja kebijakan pemerintah. Nanti kalau pemeÂrintah sudah ambil kepuÂtusan, investasi akan membaik.
Enny mengatakan, untuk meÂnilai iklim investasi bagus atau tidak tidak cukup hanya dilihat dari kebijakan BBM. Namun banyak seperti kemudahan periÂzinan, kepastian hukum, dan poÂtensi sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA). “Saya liÂhat perizinan di Indonesia sudah seÂmakin baik dan negeri ini meÂmiÂliki kekayaan alam,†katanya.
Pengamat Ekonomi Ahmad Erani Yustika menangkap keÂjanggalan di dalam penilaian lemÂbaga pemeringkat investasi. MiÂsalÂnya, penurunan outlook ekoÂnomi yang dilakukan S&P terhaÂdap Indonesia karena fiskal diÂnilai tidak sehat.
“Amerika SeÂrikat pernah deÂfisit APBN sebesar 10 persen tiÂdak diturunkan peÂringkatnya, tetapi kenapa IndoÂnesia defisit kuÂrang dari 3 persen langsung diÂturunkan,†ulasnya.
Berbeda dengan pengamat, Wakil Sekretaris Jenderal AsoÂsiasi Pengusaha Indonesia Franky Sibarani justru mengÂanggap penilaian S&P dan periÂngatan Moody’s menjadi bukti bahwa perekonomian nasional lagi tidak sehat. Lihat saja, kasus penguÂpahan buruh yang hingga kini tidak jelas. Kemudian, soal subÂsidi BBM yang terkatung-katung dan justru memicu kelangkaan BBM di daerah. KonÂdisi ini memÂbuat iklim bisnis di dalam negeri terganggu.
Alarm Bunyi, Reformasi Ekonomi Dipercepat
Pemerintah yakin penilaian lembaga pemeringkat investasi interÂnasional tidak memÂpengaÂruhi iklim investasi di Indonesia. Namun demikian, pemerintah menjadikan penilaian tersebut sebagai semangat pendorong untuk menyusun kebijakan ekoÂnomi yang lebih baik, termasuk di sektor investasi.
“Itu kita jadikan sebagai alarm agar pemerintah lebih cepat meÂnyelesaikan reformasi ekoÂnoÂmi,†kata Deputi Bidang PeÂngenÂÂdaÂlian Pelaksanaan PenaÂnaman Modal (BKPM) Azhar Lubis kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Azhar menegaskan, pemerinÂtah optimis penilaian S&P atau Moodys tidak akan menurunkan daya tarik investasi. Karena pada kuarÂÂtal pertama pertumbuÂhan invesÂtasi di Indonesia masih cuÂkup tinggi.
“Melihat data realisasi investasi pada triwulan tahun ini yang mencapai Rp 93 triliun atau naik 30,6 persen dari triwulan 2012, BKPM optimistis kegiatan investasi tahun 2013 ini akan mencapai target Rp 390 triliun,†ujarnya.
Rasa optimistis tersebut, lanjutnya, semakin besar karena pertumbuhan ekonomi pada triwulan yang tetap di atas 6 persen. Data perdagangan pada bulan Maret 2013 juga menunjukkan angka positif.
Dia memahami investor membutuhkan kepastian mengenai kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Karena hal tersebut mempengaruhi perhitungan bisnis karena terkait deÂngan pasokan listrik dan gas untuk kepentingan inÂdusÂtri. NaÂmun persoalan itu akan segera diÂselesaikan pemeÂrintah.
Azhar mengungkapkan, IndoÂneÂsia memiliki modal menjadi negara tujuan investasi. SeÂhingga, sepanÂjang iklim invesÂtasi menÂdukung, mereka akan meÂÂmilih Indonesia. DikatakanÂnya, seteÂngah penduduk ASEAN ada di Indonesia. “Saya pernah tanya ke Investor, negara mana yang meÂrupakan favorit investasi, mereka menjawab, Indonesia seÂtelah India dan China,†jelasnya.
Wakil Sekretaris Jenderal AsoÂsiasi Pengusaha Indonesia Franky Sibarani tidak setuju dengan baÂnyak kalangan yang mengÂanggap sepele penilaian S&P dan periÂngatan Moody’s. Menurutnya, iklim investasi di negeri ini meÂmang menunjukÂkan indikasi tidak sehat.
“Sistem penguÂpahan di luar keÂmampuan penguÂsaha, perdaÂgaÂngan alami defisit, dan jaÂmiÂnan keamanan minim,†katanya.
Franky meminta, pemerintah segera memperbaiki kebijakan yang selama ini belum pro inÂvestasi.
Ekonom regional di Barclays Capital, Prakriti Sofat tidak meÂmungkiri Indonesia memiliki daya tarik investasi. Sejauh jumÂlah penduduk yang besar, juga ditopang konsumsi yang tinggi. Namun dia menilai persoalan ekonomi yang dihadapi IndoÂnesia bisa menjadi ancaman.
“Mungkin sekarang bukan waktu terbaik untuk berinÂvesÂtasi di Indonesia,†kata Sofat, seperti dilansir dari
CNBC, JuÂmat (10/5).
Dia menilai, 18 sampai 24 buÂlan bukan waktu yang ideal berinÂÂvestasi di Indonesia.
Analis Saham: BBM Dinaikkan, Investor Belum Menyerbu Pasar Analis Saham Satrio Utomo mengungkapkan, sejuah peÂniÂlaian pemeringkat investasi internasional terhadap ekonomi Indonesia tidak mempengaruhi pasar modal. “Saya melihat seÂjauh ini belum berpengaruh,†kata Satrio kepada
Rakyat MerÂdeka, kemarin.
Dia menyebut, belakangan ini memang banyak investor asing yang melakukan aksi jual saham. Namun demikian para investor asing juga melakukan aksi beli.
Lihat saja Index Dow Jones meÂnyenÂtuh level 15 ribu di pekan ini. Dengan kondisi ini, Satrio yaÂkin pasar modal di IndoÂneÂsia tidak akan lesu.
Satrio justru memandang, penilaian lembaga pemeringkat inÂvestasi interÂnasional terhadap perekonomian Indonesia dominan kepada sektor ekonomi secara luas.
Outlook ekonomi diturunkan karena pemerintah Indonesia dinilai tidak memiliki dana yang besar melakukan pembangunan karena ketidakjelasan subsidi BBM.
Namun diingatkannya, sekalipun BBM (Bahan Bakar Minyak) dinaikkan tidak menjamin ada peningkatan investor alias mereka belum tentu rame-rame masuk ke Indonesia.
Analis Remax Capital, Lucky Bayu Purnomo menilai emiten yang kemungkinan akan terganggu dengan penilaian lembaga peÂmeringkat internasional yakni yang berada di sektor pertamÂbangan dan agrikultur. Sebab perÂdaÂgangan saham terÂsebut selama satu tahun belakangan dalam kondisi turun. [Harian Rakyat Merdeka]