Sebagai negara besar, Indonesia memiliki banyak tokoh muda yang layak menjadi Capres 2014.
“Tidak ada alasan bagi Indonesia kekurangan stok pemimpin. Sebab, bannyak tokoh muda bermunculan,’’ kata bekas Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Berikut kutipan selengkapnya;
Bukankah tokoh senior yang bermunculan menjadi capres?Kalau dalam konteks pilpres, sekarang memang banyak muncul tokoh senior. Ini harus jadi bahan refleksi tokoh senior parpol.
Apa tidak adanya support dari kalangan tua, sehingga tokoh muda tidak muncul?Jangan pernah berharap diberi, difasilitasi, didorong, didukung dan dijadikan pemimpin. Tidak ada logika itu dalam seleksi kepemimpinan. Artinya, tokoh tua tidak akan mendorong tokoh muda menjadi capres 2014.
Calon pemimpin itu harus kreatif membuka ruang-ruang kesempatan itu.
Bukankah ruang kesempatan itu ditutup tokoh senior?Benar. Sering terjadi ruang kesempatan itu ditutup atau sekurang-kurangnya dipersempit. Tapi itu lumrah dalam logika berkompetisi.
Banyak yang berharap muncul tokoh muda jadi pemimpin, apa bisa?Sekarang banyak tokoh muda yang punya kelayakan untuk dipercaya jadi pemimpin. Saya kira terlalu banyak untuk disebut namanya.
Tapi memang yang dilirik itu belum banyak. Makanya tokoh-tokoh muda itu harus aktif dan kreatif membuka ruang kesempatan. Itu yang harus dilakukan.
Apa berat berkompetisi dengan tokoh senior yang masih punya niatan untuk maju?Kompetisi itu memang berat, kompetisi itu kan harus punya keberanian dan kemampuan. Yakni, kemampuan untuk sesuatu yang ditawarkan kepada rakyat dan bangsa.
Kadang-kadang ada yang punya kemampuan tapi minus keberanian. Sebaliknya ada yang punya keberanian namun minus kemampuan. Nah, dalam hal kemampuan, saya melihat banyak yang punya kelayakan, tapi yang punya keberanian barang kali itu harus diperbanyak. Sebab, pil keberanian kan tidak bisa dibeli di super market, ha-ha-ha....
Bagaimana supaya berani?Keberanian itu harus tumbuh dari kesadaran diri sendiri. Atau bisa juga dari komunitasnya. Seperti lingkungan, sahabat-sahabat terdekatnya yang memberikan motivasi dan spirit dalam menguatkan keberanian itu.
Tapi kan pencalonan harus dari partai, bukankah jalur independen belum bisa?Memang untuk capres independen belum ada ruang, itu kan aturan main dalam konstitusi kita. Tapi capres sebenarnya tidak menutup peluang sama sekali bagi tokoh-tokoh non partai.
Tokoh-tokoh yang dinilai partai bagus dan memiliki kemampuan memimpin, tentu memiliki peluang untuk diusung oleh partai. Apalagi kalau ada partai yang belum punya kader memadai untuk diusung. Biasanya akan melirik dan mencari tokoh-tokoh non partai. Jadi sebenarnya tidak ada halangan bagi tokoh-tokoh non partai untuk berkesempatan diusung partai.
Apa parpol mau memilih capres yang tidak berkeringat atau capres dari luar?Ya, itu dia. Tapi parpol yang rasional biasanya mengusung tokoh yang dinilai mampu, terbaik dan punya kesempatan untuk menang. Kalau partai tidak punya kader internal, lalu memaksakan kader internalnya, itu namanya bonek (bondo nekat) dan rasanya trend partai sekarang menghidari dari tudingan sebagai partai bonek.
Apakah tokoh muda ini harus masuk partai dulu baru bisa jadi pemimpin?Masuk partai itu kan panggilan. Kalau pangilan politiknya masuk partai, jangan segan-segan masuk. Tapi kalau panggilan politiknya bukan di partai, ya tidak harus masuk partai.
Kenapa?Berpolitik itu tidak harus selalu berpartai. Meski jalur partai itu tentu lebih efektif dan lebih langsung. Bukan itu saja, peluangnya juga lebih besar ketimbang jalur non partai dalam konteks rekruitmen calon presiden, gubernur, bupati, walikota.
Apalagi kalau caleg. Bahkan caleg harus anggota partai. Tapi sekali lagi, tetap ada ruang bagi tokoh-tokoh non partai untuk tetap bisa diusung oleh partai sebagai capres.
Berlatih kepemimpinan di parpol apa bagus?Kalau berlatih politik sesungguhnya ada di partai. Karena di situ dilatih mengurus organisasi. Mengurus kepentingan orang banyak. Dilatih untuk mengelola konflik. Dilatih untuk menemukan, membina dan memperluas konstituen, komunikasi politik dan komunikasi publik yang baik.
Dilatih untuk menghadapi masalah-masalah yang rumit. Dilatih untuk berkeringat, dilatih rajin dan tidak malas. Dilatih untuk belajar mengambil keputusan kadang-kadang dalam situasi yang sulit dan dilatih untuk banyak hal yang dibutuhkan dalam menempa kepemimpinan politik seseorang.
Kalau mau latihan kepemim-pinan politik yang sungguh-sungguh ya dipartai.
Posisi Anda sebagai politisi atau berpolitik non parpol?Saya sekarang juga berpolitik, tapi jalur non partai politik. Tidak mungkin saya terlepas sama sekali dengan kegiatan politik.
Ada niatan kembali ke Demokrat atau ke partai lain?Saya tidak pernah berencana menjadi Ketum Demokrat, karena saya juga tidak sedang merencanakan sesuatu untuk kapan kembali berpartai. Biarlah nanti ikut perjalanan angin dari Duren Sawit ini.
Kalau ada parpol menawari bagaimana?Saya konsentrasi sekarang cuti masuk parpol dulu. Nanti-nanti lah. Urusan itu setelah cuti selesai. Tapi yang saya tahu banyak teman-teman yang sedang memikirkan itu.
Maksudnya memikirkan itu apa, apa mau bikin partai?Pokoknya yang saya tahu banyak teman-teman yang sedang memikirkan itu. [Harian Rakyat Merdeka]