Berita

KPAI Endus Tiga Modus Pencurian Bayi

RABU, 06 FEBRUARI 2013 | 09:57 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Terbongkarnya sindikat perdagangan bayi Polres Jakarta Barat membuat masyarakat kaget, waspada dan ketakutan. Karena ternyata lingkungan saat ini kita tidak aman dari penculikan dan pengambilan bayi secara tidak sah.

Catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), angka penculikan bayi menurun tiga tahun terakhir karena modus penculikan bergeser pada upaya meminta bayi secara baik-baik dari orang tuanya dengan iming-iming akan diasuh dan dibesarkan dengan baik agar jadi orang sukses dan diberi uang untuk biaya persalinan dan pemulihan.

"Pergeseran modus ini terjadi karena penculikan beresiko tinggi berhadapan dengan kepolisian, sedang dengan meminta baik-baik, orang tua tidak akan melapor ke polisi kehilangan bayi, sehingga data perdagangan bayi dengan modus seperti ini tidak tercatat di kepolisian atau lembaga terkait," jelas Sekretaris KPAI, M Ihsan (Rabu, 6/2).


Dalam pengawasan KPAI ada beberapa modus baru untuk mendapatkan bayi.

Pertama, trafiker (sindikat perdagangan bayi) keliling mengamati klinik dan mengindefikasi ibu miskin yang sedang hamil, didekati hampir seperti saudara, diberi bantuan dan setelah melahirkan minta agar anak dia yang asuh.

Kedua, trafiker keliling ke panti asuhan pura-pura mencari anak yang bisa di asuh.

Ketiga, mendatangi daerah pakumis (padat, kumuh dan miskin), membujuk orang tua agar anak diasuh sama mereka.

"Setelah anak didapatkan, trafiker kerjasama dengan bidan atau calo yang bisa membuat surat keterangan lahir dengan mencantumkan nama yang ditunjuk sebagai orang tua bayi untuk mengurus akte kelahiran dan paspor anak," ungkap Ihsan.

Di luar negeri anak dijual dengan harga mahal untuk pengasuhan, eksploitasi ekonomi, seksual, pornografi, sampai penjualan organ tubuh yang bernilai ratusan juta rupiah.

Karena itu, KPAI mengimbau masyarakat waspadalah terhadap orang yang tidak dikenal. "Kita semua harus terlibat aktif melakukan pencegahan dengan pengawasan melekat oleh orang tua, keluarga dan masyarakat," tandasnya.[zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Koperasi Harus Saling Berkolaborasi Perbesar Dampak Ekonomi

Jumat, 10 April 2026 | 22:20

Presiden Harus Ganti Gus Ipul Demi Sukses Muktamar NU

Jumat, 10 April 2026 | 22:14

Demonstran: MK Harus Jaga Marwah dan Jangan Takut Tekanan

Jumat, 10 April 2026 | 22:06

Pimpinan Baru Ombudsman RI Bertekad Kawal Asta Cita dan Perkuat Pengawasan Publik

Jumat, 10 April 2026 | 22:02

Teddy Bantah Isu RI Kaos, BBM Subsidi Tak Naik Jadi Bukti

Jumat, 10 April 2026 | 21:43

Breaking News: KPK OTT Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Jumat, 10 April 2026 | 21:38

Reshuffle Menteri Prabowo Jangan Tebang Pilih

Jumat, 10 April 2026 | 21:16

Dihantam Gelombang Mundur, PKN: Mati Satu Tumbuh Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 21:02

Perlu Peraturan Pemerintah Baru Demi Lindungi 64 Juta UMKM di Era Digital

Jumat, 10 April 2026 | 20:48

TNI Digeber Lewat Bimtek Ketahanan Pangan

Jumat, 10 April 2026 | 20:44

Selengkapnya