Ketua Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid dijagokan untuk menjadi Presiden PKS menggantikan Luthfi Hasan Ishaaq yang sudah mengndurkan diri karena tersangkut kasus suap impor daging.
Tapi Hidayat mengaku tak mau lagi memegang kursi yang pernah dia duduki tersebut.
"Secara prinsip, saya selalu menegaskan bahwa PKS itu partai kader. Dan karena partai kader tentu mementingkan kaderisasi. Dan saya alhamdulillah pernah jadi presiden partai dua kali. Pada tahun 1999-2001 saya jadi Presiden Partai Keadilan. Lalu 2001-2004, saya jadi Presiden Partai Keadilan Sejahtera," ujar Hidayat kepada Rakyat Merdeka Online (Jumat, 1/2).
Dia kuatir kalau jadi presiden partai lagi, kaderisasi di PKS tidak berjalan. Tak hanya itu, dia juga tak mau dicap orang yang 4L, loe lagi, loe lagi.
"Jadi kalau kalau kembali ke saya lagi, itu artinya 4L, loe lagi, loe lagi. Jangan dong. Kan kader PKS
alhamdulillah banyak, punya pengalaman organisasi mumpuni, pejabat publik yang bagus. Saya lebih mendukung kader lain dimajukan supaya sistem kaderisasi berjalan efektif," ungkapnya.
Siapa sebaiknya?
"Banyak dong. Syarat untuk jadi ketua partai itu memang harus anggota Majelis Syuro. Anggota Majelis Syuro itu 99 orang. Yang pernah jadi presiden partai kan hanya 5-6 orang. Jadi masih banyak lagi. Mereka yang punya pengalaman, ada yang jadi Ketua Dewan Syariah, Sekjen, Bendahara Umum, dan Ketua DPP. PKS tidak akan kekurangan kader," ungkapnya.
Salah seorang yang mendukung Hidayat menjadi Presiden PKS adalah Tifatul Sembring, yang juga pernah jadi presiden partai. Hidayat meminta Menteri Komunikasi dan Informatikan itu tidak mendorongnya. "Saya kan senasib dengan Pak Tifatul. Jadi ke kader yang lain saja lah," imbuhnya.
Karena itu, sekalipun akan ditunjuk, Hidayat akan berusaha menghindar. Berbeda dengan pada saat dia ditunjuk menjadi calon gubernur DKI Jakarta. Sebelumnya dia menolak. Tapi setelah ditunjuk dia menerima meski kalah pada putaran pertama.
"Insya Allah ada kondisi dimana saya memang harus menerima penunjukan. Karena ada kondisi, saya harus tampil. Tapi untuk yang ini, akan ada kader lain yang tepat juga untuk melanjutkan perjuangan. Karena untuk gubernur, saya belum pernah. Kalau dicalonkan ada wajarnya. Tapi untuk jadi presiden, saya sudah pernah. Beri kesempatan yang lain jadi presiden," tandasnya.
[zul]