Berita

PRESIDEN PKS TERSANGKA

KPK Seperti Peternakan Kasus!

KAMIS, 31 JANUARI 2013 | 10:57 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Masyarakat akan memandang PKS tak ada bedanya dengan partai lain, rentan terkena wabah korupsi menyusul penetapan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq sebagai tersangka kasus suap impor daging sapi.

Tapi, bagi pemilih PKS, mereka akan cenderung mempertanyakan dan bahkan meragukan kualitas pekerjaan, bahkan niat KPK dalam kasus ini. 

"Tentu mereka punya alasan yang cukup," ungkap pengamat politik dari FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Teguh Santosa (Kamis, 31/1). 


Walaupun secara umum, diakui Teguh, KPK masih merupakan lembaga yang paling kredibel di mata masyarakat awam dalam memberantas korupsi. Namun dalam beberapa kasus terakhir, terlihat KPK lebih concern pada upaya menjaga citra daripada bekerja sungguh-sungguh membongkar suatu kasus korupsi.

"KPK menjadi lembaga yang berkerja untuk memenuhi kepuasaan publik yang sesaat dan hanya di permukaan. Sementara sesungguhnya, kepuasaan publik itu dapat disetir oleh pihak-pihak yang 'tidak kasat mata'," jelasnya.

Karena itu, Teguh memandang, KPK seperti peternakan kasus, yang mengeluarkan kasus-kasus baru untuk disembelih sehingga kasus-kasus baru itu menutupi megakasus korupsi yang sebetulnya lebih menjadi momok bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

"Dari sudut pandang ini, saya menilai, ketidaktegasan dan keengganan KPK dalam menangani megaskandal danatalangan Bank Century menjadi faktor besar yang membuat banyak penyelenggara kebijakan negara tidak sungkan bermain api suap dan korupsi," ungkapnya.

Di sisi lain, KPK mencoba memperlihatkan keseriusannya dalam menangani kasus korupsi dengan mengejar pihak-pihak yang lain yang mungkin melakukan suap dan korupsi. Berbagai informasi mereka telusuri.

"Akhirnya, kita merasa KPK sudah bekerja keras memberantas korupsi. Padahal dari perspektif yang lebih luas yang mereka lakukan hanya menangkap ikan teri, sementara ikap kakap atau big fish dibiarkan berkeliaran," demikian Teguh.[zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Koperasi Harus Saling Berkolaborasi Perbesar Dampak Ekonomi

Jumat, 10 April 2026 | 22:20

Presiden Harus Ganti Gus Ipul Demi Sukses Muktamar NU

Jumat, 10 April 2026 | 22:14

Demonstran: MK Harus Jaga Marwah dan Jangan Takut Tekanan

Jumat, 10 April 2026 | 22:06

Pimpinan Baru Ombudsman RI Bertekad Kawal Asta Cita dan Perkuat Pengawasan Publik

Jumat, 10 April 2026 | 22:02

Teddy Bantah Isu RI Kaos, BBM Subsidi Tak Naik Jadi Bukti

Jumat, 10 April 2026 | 21:43

Breaking News: KPK OTT Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Jumat, 10 April 2026 | 21:38

Reshuffle Menteri Prabowo Jangan Tebang Pilih

Jumat, 10 April 2026 | 21:16

Dihantam Gelombang Mundur, PKN: Mati Satu Tumbuh Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 21:02

Perlu Peraturan Pemerintah Baru Demi Lindungi 64 Juta UMKM di Era Digital

Jumat, 10 April 2026 | 20:48

TNI Digeber Lewat Bimtek Ketahanan Pangan

Jumat, 10 April 2026 | 20:44

Selengkapnya