Berita

sby

Pendukung SBY Sendiri Kecewa Kinerja KIB II

RABU, 30 JANUARI 2013 | 12:12 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Hasil survei Lingkaran Survey Indonesia (LSI) menunjukan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Kabinet Indonesia Bersatu II sangat rendah. Dari 1200 responden, hanya 34,32 persen yang merasa puas terhadap kinerja kabinet secara keseluruhan.

"57,78 persen merasa tidak puas," kata Peneliti LSI Adrian Sopa dalam jumpa pers di kantor LSI, Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, kemarin, seperti dilansir JPNN.

Menurut Adrian, rasa tidak puas ini nampak merata di semua demografi responden. Sebanyak 66,70 persen responden yang tinggal di area perkotaan mengaku tidak puas. Sementara untuk yang tinggal di desa sebanyak 52,87 persen merasa tidak puas.


Responden yang merasa tidak puas juga datang dari berbagai latar belakang pendidikan. Mulai dari lulusan SD hingga perguruan tinggi, jumlah yang tidak puas berada di atas 50 persen.

Bahkan responden yang memilih Presiden SBY pada tahun 2009 juga banyak yang tidak puas. Survei menunjukan bahwa 43,18 persen pemilih SBY tidak puas terhadap kinerja kabinet bentukannya itu.

"Untuk yang puas itu 41,62 persen," ucap Adrian.

Kabinet Indonesia Bersatu II juga gagal memuaskan para pendukung partai anggota koalisi pemerintahan alias Setgab. Diantara responden yang memilih Partai Demokrat pada pemilu 2009 lalu, hanya 42,56 persen yang merasa puas. Sementara diantara pemilih Partai Golkar, tingkat kepuasan hanya 35,81 persen.


"Diantara pendukung-pendukung partai oposisi, kepuasannya dibawah 30 persen," papar Adrian.

Peneliti LSI itu menilai, hasil survey lembaganya harus menjadi peringatan bagi Presiden SBY. Pasalnya, hasil survey menunjukan rendahnya kredibilitas dan legitimasi pemerintah di mata masyarakat.

"Ini bisa mendelegitimasi kabinet kalau dibiarkan," tandasnya.

Survei LSI ini dilakukan pada tanggal 22-25 Januari 2013. Survey dilakukan terhadap 1200 responden dari seluruh Indonesia. Survei menggunakan metode multi random sampling dengan margin of error sebesar 2,9 persen.[zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Koperasi Harus Saling Berkolaborasi Perbesar Dampak Ekonomi

Jumat, 10 April 2026 | 22:20

Presiden Harus Ganti Gus Ipul Demi Sukses Muktamar NU

Jumat, 10 April 2026 | 22:14

Demonstran: MK Harus Jaga Marwah dan Jangan Takut Tekanan

Jumat, 10 April 2026 | 22:06

Pimpinan Baru Ombudsman RI Bertekad Kawal Asta Cita dan Perkuat Pengawasan Publik

Jumat, 10 April 2026 | 22:02

Teddy Bantah Isu RI Kaos, BBM Subsidi Tak Naik Jadi Bukti

Jumat, 10 April 2026 | 21:43

Breaking News: KPK OTT Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Jumat, 10 April 2026 | 21:38

Reshuffle Menteri Prabowo Jangan Tebang Pilih

Jumat, 10 April 2026 | 21:16

Dihantam Gelombang Mundur, PKN: Mati Satu Tumbuh Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 21:02

Perlu Peraturan Pemerintah Baru Demi Lindungi 64 Juta UMKM di Era Digital

Jumat, 10 April 2026 | 20:48

TNI Digeber Lewat Bimtek Ketahanan Pangan

Jumat, 10 April 2026 | 20:44

Selengkapnya