Mayoritas publik mengasosiasikan sikap tegas tokoh dengan latar belakang TNI. Dengan fakta itu, maka menunjukkan bahwa dua orang mantan jenderal, yakni Prabowo dan Wiranto adalah sosok yang lebih tegas dari nama-nama capres lain yang beredar. Dengan demikian wajar jika keduanya menjadi pilihan utama publik menghadapi Pilpres 2014.
Indikator persepsi publik terhadap sosok capres yang tegas identik dengan tokoh berlatar belakang TNI, memperlihatkan bahwa mayoritas publik masih mengharapkan Presiden RI 2014-2019 adalah figur berlatar belakang TNI.
Demikian disampaikan, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional (LSN), Umar S Bakry dalam jumpa pers menyampaikan hasil survei terbaru LSN tentang Capres 2014 di Hotel Atlet Century Park Ruang Atanaya 2, Jakarta, Senin (22/10).
Jelas Umar, Saat LSN menanyakan kepada responden beberapa kombinasi capres dan cawapres, hasilnya kombinasi pasangan capres berlatar belakang TNI dan cawapresnya orang sipil, lebih banyak disukai dan disetujui sebanyak 73,5 persen responden, sedangkan yang mengaku setuju terhadap capres sipil dan cawapresnya berlatar belakang TNI hanya 64,7 persen.
Lalu di luar Prabowo dan Wiranto, apakah ada tokoh berlatar belakang TNI lainnya yang berpeluang meramaikan kontestasi dalam Pilpres 2014? Kata Umar, peluang itu kecil.
"Saat kami sebutkan kepada responden sejumlah nama jenderal kemudian kami tanyakan, siapa diantara mereka yang paling layak menjadi presiden menggantikan SBY? Hanya nama Prabowo dan Wiranto yang mendominasi. Sebanyak 29,9 persen responden menyebut nama Prabowo dan 29,1 persen memilih Wiranto," ungkapnya
Dari hasil itu, sangat mungkin terjadi tokoh berlatar belakang TNI yang dipersepsikan publik memiliki sikap tegas, akan dominan dalam Pilpres 2014 mendatang. Bahkan peluang untuk terjadinya “perang bintang†dalam final atau putaran kedua Pilpres 2014 cukup terbuka. Tentu berbagai kemungkinan lain masih mungkin pula terjadi.
"Jika dalam sisa waktu dua tahun ke depan muncul tokoh dari kalangan sipil yang bersih dan sangat inspiratif, sekaligus memiliki karakter yang tegas, bisa saja capres berlatar belakang TNI bukan lagi menjadi pilihan," pungkasnya.
[arp]