Berita

Tarmidi Suhardjo, Kader Loyal yang Akhirnya Dicampakkan Mega

RABU, 10 OKTOBER 2012 | 18:47 WIB | LAPORAN:

Tarmidi Suhardjo bukan kader biasa. Perjuangan dan loyalitasnya saat membela PDI Perjuangan sudah teruji. Mantan Ketua DPD PDIP DKI Jakarta dan mantan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta itu meninggal dunia tadi siang (Rabu, 10/10).

"Ia bukan kader kos-kosan. Saya mengenangnya sebagai politisi yang bersahaja dan setia pada cita-cita partai dan bangsa," ujar jurnalis senior Teguh Santosa yang mengenal dekat Tarmidi Suhadjo.



Tarmidi memulai karier politiknya di PDI yang kemudian menjadi PDIP sejak awal, tak lama setelah penguasa Orde Baru menyatukan sejumlah partai politik menjadi PDI dan PPP. Dari sekadar penggembira dan pendukung biasa, ia menjadi Ketua Ranting PDI Kebun Pala, sampai tahun 1983.



Sukses memimpin Anak Ranting Kebun Pala, Tarmidi menjadi Ketua Pengurus Anak Cabang Kramat Jati, Jakarta Timur sampai tahun 1994. Lalu sebagai Ketua DPC PDI Jakarta Timur sampai 2000.

Antara tahun 1993 dan 1994 terjadi perubahan besar di tubuh PDI. Mega yang tak diinginkan Orde Baru merebut kursi ketua umum dalam Kongres Luar Biasa (KLB) di Surabaya, Desember 1993. Tapi kubu Soerjadi yang didukung Orde Baru masih tetap mengklaim pemimpin PDI yang sah.

"Tarmidi Suhardjo adalah orang yang berperan menentukan keberhasilan Mega di detik-detik terakhir menjelang deadlock," ujar Teguh.



Ketegangan di tubuh PDI terus berlangsung hingga peristiwa 27 Juli 1996 ketika massa kedua kubu bentrok memperebutkan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro.


Nasib baik mulai berpihak pada kubu Mega setelah Soeharto mengundurkan diri Mei 1998. PDI yang dipimpin Mega mengubah nama menjadi PDI Perjuangan dan memenangkan pemilihan umum 1999 dengan dukungan yang fantastis. Adapun Tarmidi pada tahun 2000 terpilih sebagai Ketua DPD DKI Jakarta.

Mestinya posisi itu baru berakhir tahun 2005.



Di tahun 2002 Tarmidi terdepak dari PDIP. Mega mencampakkan Tarmidi menjelang pemilihan gubernur DKI Jakarta tahun 2002. Padahal ketika itu Tarmidi telah mendapatkan rekomendasi Rakerdasus DKI Jakarta sebagai calon gubernur dari partai berlambang banteng bermoncong putih itu.

Namun nyatanya, Megawati dan Taufik Kiemas memilih mantan Pangdam Jaya Sutiyoso yang diduga terlibat dalam peristiwa 27 Juli 1996. [arp]

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya