ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Ketua Umum DPP REI) Setyo Maharso mengaÂtaÂkan aturan itu sangat sulit diterapkan selama belum ada PeraÂturan Daerah (Perda) yang dibuat Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mereaÂlisasikan PerÂmenÂpera hunian berimbang tersebut.
Di samping itu, Permenpera ini masih memiliki kekurangan, seÂperti batasan harga rumah sejahÂtera, menengah dan mewah seÂbanyak empat kali serta batasan jumlah rumah yang mesti diÂbangun hunian berimbang.
“Jadi, saya ragukan aturan ini dapat direalisasikan dengan ceÂpat,†papar Setyo Maharso daÂlam acara Sosialisasi Hunian BerÂimbang dan Evaluasi Kredit PeÂmilikan Rumah Fasilitas LiÂkuiÂditas Pembiayaan PeruÂmahÂan (KPR FLPP) di Jakarta, Rabu (8/8).
REI menyarankan, aturan ini dibahas lagi dengan Pemda agar penerapannya bisa segera dilaÂkuÂkan. “Sebagai pengembang aturÂan itu cukup baik. Hanya saja perÂlu disempurnakan supaya tidak ada yang dirugikan satu sama lain,†terangnya.
Deputi Pengembangan KaÂwasan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) Hazaddin Tende Sitepu mengatakan, piÂhakÂnya tetap meminta pengem–bang menjalankan aturan hunian berÂimbang karena itu merupakan amanat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumah–an dan Kawasan Permukiman (UU PKP) pasal 34-37.
â€Kami harap Permenpera ini tetap dijalankan REI,†katanya.
Sekretaris Perusahaan PT CiÂputra Development Tbk Tulus Santoso mengungkapkan, peÂngembang kesulitan menerapkan konsep hunian berimbang di satu Kota/Kabupaten karena di daerah sudah memiliki tata ruang. ApaÂbila hunian berimÂbang dijaÂlanÂkan, itu akan tumÂpang tindih deÂngan tata ruang daerah.
â€Kami tidak mungkin meÂnyiapkan masterplan tersendiri dengan tata ruang yang sudah ada,†papar Tulus.
Dia menambahkan, penerapan hunian berimbang membutuhÂkan keterkaitan dan koordinasi deÂngan kota-kota lain karena meÂnyangkut infrastruktur, transÂportasi,dan fasilitas lainnya. DeÂngan demikian, penerapan huÂnian berimbang harus dipiÂkirkan seÂcara luas, tidak hanya meÂngaÂtur komposisi rumah yang diÂbangun.
â€Jika tidak diatur secara luas, malah nanti akan tercipta keÂtidakteraturan wiÂlayah,†tegas Tulus.
Kesulitan lain, tambahnya, adalah ketersediaan lahan untuk bangun rumah sederhana. JikaÂpun ada lahan yang tersedia, harganya secara ekonomis tidak bisa masuk untuk rumah seÂderhana. Lagi pula, konsep ini justru berpotensi menimbulkan monopoli di saat pengembang besar bisa membangun seluruh proyek properti. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23