ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Mendag Gita Wirjawan meÂnyaÂtakan, berÂdasarkan hasil insÂÂpeksi mendadak (sidak)-nya ke beÂberapa pasar traÂdisional, diteÂmuÂkan banyak sekali proÂduk impor.
“Saat sidak puasa ke pasar inÂduk banyak sekali produk asing yang dijual,†kata Gita saat berÂbuka puasa dengan para pimÂpinÂan redaksi di rumah pribadi Menteri Perindustrian MS HidaÂyat, Senin malam (13/8).
Menurut Gita, tiga minggu lalu produk impor pangan masih meÂnguasai pasar-pasar tradiÂsional antara lain wortel, kentang, caÂbe, kedelai dan bawang putih.
NaÂmun, saat ini jumlah koÂmoÂÂditas bahan pangan impor mulai berÂkurang seiring dengan mulai maÂsuknya masa panen raya beÂberapa komoditas paÂngan dalam negeri seperti baÂwang, kol, cabe dan beras.
Menurut Gita, saat ini bahan pangan impor yang masih diteÂmukan di pasar tradisional tinggal bawang putih, wortel dan jahe. Untuk bawang putih, Indonesia meÂmang sulit mencapai swasemÂbadanya. “Kita pernah swasemÂbada bawang putih pada tahun 1980-an. Tapi ke depan masih akan sulit,†jelasnya.
Sedangkan untuk wortel dan jahe sifatnya kasuistis dan tidak rata beredar di pasar. Impor jahe berÂasal dari China. Sedangkan imÂpor kedelai karena produksi dalam negeri hanya mencapai 800 ribu ton dari total kebutuhan 2,6 juta ton. Karena itu, tidak heran jika Indonesia masih harus impor.
Namun, dia meÂnegaskan, untuk mencapai target swasemÂbada kedelai 2014, peÂmerintah akan menerapkan sisÂtem Harga PemÂbelian Pemerintah (HPP).
Gita menjamin paÂsokan bahan pangan menjelang Lebaran aman. Bahkan dia mengÂklaim, harga-harga bahan pokok di paÂsar traÂdisional relatif turun kaÂrena paÂsokannya melimpah.
Ia mencontohkan, tahun ini peÂmerintah memasok ayam sebaÂnyak 2 miliar ekor atau lebih tingÂgi dibanding tahun lalu yang mencapai 1,6 miliar ekor. Kondisi ini membuat pasokan aman.
“Kalau kita pantau harga ayam pada awal puasa memang naik. Kita langsung panggil pedagang kenapa bisa naik,†katanya.
Gita juga sudah meminta keÂpada pedagang tidak mengÂambil untung banyak dan mengÂambil kesempatan. “Sekarang harÂga ayam sudah menurun, bahÂkan telur juga sudah turun di bebeÂrapa tempat menjadi 13 ribu per kilo gram,†tandasnya.
Anggota Komisi IV DPR SuÂkiman mengatakan, pemeÂrintah harus mengurangi keterÂganÂtuÂngan terhadap impor paÂngan. Apalagi anggaran untuk perÂtanian dalam Anggaran PenÂdapatan dan Belanja Negara (APBN) terus mengalami peÂningÂkatan setiap tahunnya. BahÂkan, tahun ini anggarannya hamÂpir menÂcapai Rp 20 triliun (subÂsidi pupuk dan benih).
“Sangat aneh jika impor paÂngan kita juga terus meningkat. MaÂÂsa jahe saja kita harus impor,†kata Sukiman kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Harusnya, kata dia, dengan meÂningkatnya anggaran pertaÂnian, impornya juga ikut berkurang. Dia membandingkan ketika era PreÂsiden Soeharto, dengan angÂgaran minim swasembada paÂngan masih bisa terlaksana.
Karena itu, Sukiman meminta pemerintah memproteksi pasar dalam negeri dari serbuan impor bahan pangan. Pemerintah boleh impor, asal komoditas tersebut tidak ada di dalam negeri.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit pangan Indonesia 2011 mencapai 9,24 miliar dolar AS atau mendekati Rp 90 triliun. Impor beras IndoÂnesia mencapai 2,75 juta ton deÂngan nilai 1,5 miliar dolar AS atau 5 persen dari total kebuÂtuÂhan daÂlam negeri. Impor kedelai menÂcapai 60 persen dari total konÂsumsi dalam negeri dengan nilai 2,5 miliar dolar AS dan imÂpor jaÂgung sebesar 11 persen dari konsumsi 18,8 juta ton seÂnilai 1,02 miliar dolar AS.
Sedangkan impor gandum 100 persen atau senilai 1,3 miliar dolar AS, impor gula putih 18 persen senilai 1,5 miliar dolar AS, daging sapi 30 persen dengan nilai 331 juta dolar AS dan susu impor mencapai 70 persen. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23