ilustrasi, BBM Non Subsidi
ilustrasi, BBM Non Subsidi
Ketua APBBMI Jojok MoeÂdjiÂjo mengatakan, penghapusan kedua pungutan itu dipasÂtikan akan menjadi daya tarik bagi para pengguna BBM subÂsidi unÂtuk beralih ke non subÂsidi. Hal itu juga akan meÂningÂkatkan penÂjualan BBM non subsidi.
Penghapusan PBBKB dan PPn, kata Jojok, akan memperÂkeÂcil disparitas harga antara BBM subsidi dengan non subÂsidi. “Harusnya ini mendapat perÂÂhatian serta diakomodir oleh pemerintah,†ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Selain itu, pemerintah juga seÂharusnya menghilangkan perÂaturan yang menghambat penÂjualan dan peningkatan penyaÂluran BBM non subsidi, sebaÂgaimana yang dirasakan para penyalur terkait Peraturan MenÂteri Energi Sumber Daya MiÂneÂral (Permen ESDM) No. 16 TaÂhun 2011 tentang KegiaÂtan PeÂnyaluran Bahan Bakar MiÂnyak.
Menurut Jojok, aturan tenÂtang penjualan dan penyaluran BBM non subsidi tidak harus sekeÂtat penjualan BBM subsidi, meÂngingat tidak terdapat subÂdisi yang diberikan pemerintah.
Sekjen APBBMI Sofyano Zakaria mengatakan, seharusÂnya penyaluran BBM non subÂsidi dapat disejajarkan dengan koÂmoditas atau produk straÂtegis dan vital lainnya, yang sama-sama berkaitan dan meÂnguasai haÂjat hidup orang baÂnyak seÂperti beras, gula dan miÂnyak goreng.
Dalam penyaluran komodiÂtas tersebut, kata dia, pemeÂrintah sudah memberlakukan azas perÂdagangan umum. KaÂrena itu, seharusnya dalam penÂjualan BBM non subsidi juga tidak diÂpagari dengan perÂaturan ketat yang justru akan mengurangi penjualannya.
“Pemerintah harus memberiÂkan kemudahan dan insentif daÂlam perdagangan BBM non subÂsidi yang harusnya diteÂtapÂkan dalam peraturan peÂmeÂrintah maupun menteri,†jelas Sofyano.
Karena itu, APBBMI mendeÂsak Menteri ESDM Jero Wacik menghapus segala ketentuan yang terkait dengan penyaluran BBM non subsidi yang terdapat dalam Permen ESDM No.16 Tahun 2011 tentang Kegiatan PeÂnyaluran Bahan Bakar MiÂnyak.
Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo mengÂhaÂrapÂkan pemerintah daerah (PemÂÂda) tidak menerapkan paÂjak bahan bakar kendaraan berÂmotor (PBBKB) melebihi 5 perÂsen agar tidak terlalu memÂbeÂbani anggaran subsidi energi.
“Kita harap mereka mengerÂti, jangan membebani di atas lima persen. Rakyat itu harus menikÂmati harga BBM yang sama,†kata Agus.
Menurutnya, prioritas pemeÂrinÂtah saat ini adalah memÂbeÂriÂkan imbauan kepada pemda agar tidak membebani masyaraÂkat dan membuat harga BBM di daerah menjadi berbeda-beda.
Untuk diketahui, PertaÂmina menaikkan harga BBM non subsidi jenis pertamax 92 dari Rp 8.600 per liter menjadi Rp 9.250 per liter. Kenaikan ini terÂhitung mulai Jumat (3/8). [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23