ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Berbanding terÂbalik dengan kondisi untuk kegiaÂtan hilir miÂgas, sebanyak 98 persen dilaÂkukan oleh perusahaan nasional. Hanya 2 persen yang dilakukan oleh perusahaan asing dikareÂnakan SPBU di Indonesia masih dikuasai asing.
Anggota Komisi VII DPR Dewi Aryani menegaskan, peÂmerinÂtah harus segera mengaÂmanÂÂkan sumber energi dengan beÂberapa cara. Pertama, menemÂpatkan energi sebagai leading sektor dalam pembuatan kebijaÂkan lainnya. Kedua, renegosiasi seluruh kontrak karya. Ketiga, penguatan kelembagaan di sektor migas. BP Migas diperan lebih kuat, operator minyak dan gas nasional di perkuat.
Keempat, revenue BUMN biÂdang Migas sebaÂgian persentaÂsenya untuk fokus pengemÂbaÂngan energi baru terbarukan. KeÂlima, fondasi seÂluÂruh pembuatan kebijakan energi harus konsisten menempatkan UUD 45 pasal 33 ayat 2 sebagai fokus pemahaman mendasar.
“Keseluruhan usulan di atas di tuangkan dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang hingga kini belum juga disahkan oleh PreÂsiden selalu Ketua Dewan Energi Nasional (DEN). PemeÂrintah haÂrus mampu melaksanaÂkan itu semua, kalau tidak ya munÂdur saja,†cetusnya kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, pembahasan reÂvisi UU No.22 Tahun 2001 tentang MiÂgas seÂdang diÂlaksanakan DPR. Beberapa pihak melontarkan pendapat bahwa UU No.22/2001 harus diÂrombak total karena berÂÂtenÂtangan dengan UUD 1945.
“Ya memang harus diromÂbak, supaya berpihak kepada IndoÂnesia dan bisa mengÂunÂtungÂkan rakyat indonesia,†ujar Dewi.
Politisi PDIP ini menjelaskan, banyak pihak terutama sektor energi di Indonesia sampai saat ini masih dirundung keÂtiÂdakjeÂlasan orientasi pengeloÂlaan. PeÂmerintah terkesan seÂtengah-seÂtengah menanam keseriusan unÂtuk membawa sektor energi seÂbagai sektor yang seharusnya diÂprioritaskan.
Padahal, jika PemeÂrinÂtah meÂmahami bahwa energi memiliki interkoÂnekÂtivitas yang kompleks dengan berbagai sektor kehiduÂpan yang lain, maka seharusnya niatan unÂtuk mereÂposisi sektor energi seÂbagai leaÂding sector tidak lagi setengah-setengah.
“Pada kenyataannya, sikap PeÂmerintah selama ini mengeÂsamÂpingkan kebijakan energi. PadaÂhal, seÂlangÂkaan energi disebabÂkan oleh salah tata kelola energi,†ujarnya.
Bagi pakar pemerinÂtah Erman Rajagukguk, UU Migas tak berÂtentaÂngan dengan UUD 1945. Yang penÂting dilakukan saat ini meneÂliti kembali kontrak kerja samaÂnya, sehingga akan kelihaÂtan apakah kontrak kerja sama terÂsebut menguntungkan IndoneÂsia atau tidak. Namun, kalaupun konÂtrak kerja sama diketahui tiÂdak benar, semisal karena masaÂlah cost recovery, hal itu bisa dilakuÂkan penyempurnaan.
“Undang-Undang Migas sudah baik. Yang perlu diÂteliti kontrak kerja samanya mengÂÂuntungkan kita atau tidak. Kekhawatiran saÂya mengapa tidak negara yang turun tangan, bisa merugikan neÂgara beserta asetnya. BP Migas lah yang berÂkontrak, bukan neÂgara,†terang Erman. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23