ilustrasi, Kedelai
ilustrasi, Kedelai
Suswono mengatakan, pihakÂnya terus berusaha menggenjot proÂduksi kedelai dalam negeri guÂna mencapai target swaÂsemÂbada. Menurutnya, langkah awal yang dilakukan dengan meÂnyiapÂkan tambahan lahan untuk produksi.
Menurut dia, pihaknya sudah berÂÂdiskusi dengan Kepala Badan PerÂÂtanahan Nasional (BPN) HenÂdarÂman Supandji untuk bisa meÂmanÂfaatkan tanah telantar yang jumÂlahnya mencapai 7,5 juta hektar.
Kementerian Pertanian, kata SusÂwono, sudah dijanjikan akan dibeÂrikan 2 juta hektar tanah unÂtuk meningkatkan produksi pertÂanian. Ironisnya, saat ini baru 13 ribu hektar tanah telantar yang statustusnya clear and clean.
“Kita sudah diskusi selama kuÂrang lebih satu bulan untuk peÂmanfaatan lahan telantar. Apalagi petani kita kan lahannya sempit dan harus bersaing dengan peÂtani-petani raksasa dari AmeÂrika,†papar Suswono, kemarin.
Selain itu, hambatan paling beÂsar terhadap produksi kedelai daÂlam negeri, yakni kurangnya miÂnat petani untuk menanam keÂdelai karena harganya murah.
Suswono mengatakan, proÂdukÂsi jagung per hektarnya bisa menÂcapai 7-8 ton bahkan ada yang sampai 9 ton. Dengan harga Rp 2.300 per kg, para petani bisa mengÂhasilkan Rp 18 juta per hekÂtar. Ini berbeda dengan kedelai. DeÂngan luasan lahan yang sama, petani hanya bisa memproduksi 2 ton. Jika harganya Rp 5 ribu per kg mereka hanya bisa dapatkan Rp 10 juta sekali panen.
“Idealnya, harga untuk kedelai satu setangah kali harga beras. DeÂngan harga tersebut sudah diÂpasÂtikan margin keuntungan akan sangat bagus,†katanya.
Menurutnya, berdasarkan peÂnelitian Litbang Kementan, proÂduksi kedelai bisa mencapai 2,7 juta ton per hektar. Tapi sekarang ini rata-rata produksi nasional 1,5 juta ton. Karena itu, pihaknya akan melakukan roadmap ulang.
Kepala Badan Ketahanan PaÂngan Kementerian Pertanian Achmad Suryana mengakui, proÂduktivitas kedelai nasional daÂlam liÂma tahun terakhir stagnan. Saat ini, produksi kedelai nasioÂnal hanya 779.000 ton per tahun, seÂmentara kebutuhan nasional 2,2 juta ton per tahun. “Lebih banyak impornya,†katanya.
Suryana mengatakan, situasi itu terjadi lantaran banyak faktor, seÂperti peningkatan jumlah penÂduÂduk, alih fungsi lahan pertanian dan rendahnya harga kedelai.
Direktur Institute for DevelopÂment of Economics and Finance (InÂdef) Enny Sri Hartati mengaÂtakan, keinginan pemerintah unÂtuk bisa swasembada kedelai paÂda 2014 hanya mimpi. Pasalnya, keÂbijakan pemerintah tidak pro terÂhadap peningkatan dan kesehÂjahteraan petani.
“Kalau kebijakannya masih seÂperti sekarang, rasa-rasanya kayak mimpi, kecuali ada upaya langÂsung yang fundamental. Yang penÂting itu langkah konkret, bukan omong doang (omdo)†katanya.
Enny mencontohkan, kebijaÂkan pembebasan bea masuk (BM) imÂpor keÂdelai-lah yang membuat proÂduksi kedelai nasional sulit meÂningkat. Padahal, BM itu bisa digunakan untuk pemÂbeÂrian inÂsentif benih kualitas ungÂgul guna memperbaiki hasil kedelai.
HPP Kedelai
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian PerdaÂgaÂngan Gunaryo mengatakan, piÂhakÂÂnya sedang mendalami usuÂlan dari para perajin tahu dan temÂpe yang menginginkan dÂiteÂÂÂrapkanÂnya Harga Pokok PenÂjualan (HPP) kedelai. Hal itu dilakukan untuk meredam flukÂtuasi harga kedelai.
“Menurut petani HPP-nya paÂling tidak Rp 7.000 per kiloÂgram. Ini juga disambut baik oleh koperasi perajin tahu tempe,†ujar Gunaryo.
Dia juga menambahkan, yang paling penting bagi perajin tahu tempe adalah harga kedelai yang tidak naik-turun atau berÂfluktuasi dalam rentang waktu yang penÂdek. Saat ini, para peÂtani kedelai suÂdah ada yang mampu meningÂkatkan produksi hingga 2,5 ton per hektar. SuÂpaya ada jaminan terus menaÂnam, pemerintah harus meneÂrapkan HPP. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23