ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor Indonesia pada semester I-2012 mengalami keÂnaikan 15,35 persen menjadi 96,41 miliar dolar AS dibanding semester I-2011 yang hanya 83,58 miliar dolar AS.
Impor migas semester I 2012 menÂcapai 21,44 miliar dolar AS atau mengalami kenaikan 11,42 perÂsen di banding periode yang saÂma tahun lalu. Impor non miÂgas juga mengalami kenaikan 16,52 perÂsen menjadi 74,97 miÂliar doÂlar AS dari periode sebeÂlumnya. Sedangkan impor migas Juni 2012 sebesar 3,35 miliar dolar AS damn impor non miÂgasnya 13,33 miliar dolar AS.
Wakil Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini mengakui, tanÂtangan pemerintah dalam meÂngelola energi nasional adalah maÂsih tingginya permintaan terÂhadap BBM. Padahal, energi fosil itu harganya mahal.
Menurutnya, pemerintah harus berani mengambil terobosan meÂngurangi ketergantungan terÂhaÂdap BBM dan beralih mengÂguÂnakan energi baru terbarukan (EBT). RuÂdi mencontohkan PranÂcis yang beÂrani menggunakan nukÂlir hingÂga 70 persen dan Inggris mengÂguÂnakan gas hingga 60 persen.
“Sementara di Indonesia 70 perÂsen masih menggunakan miÂgas, minyaknya sendiri (proÂdukÂsi) adaÂlah 48 persen. Ini cukup memÂbeÂratkan karena untuk meÂmenuÂhinya harus impor,†ujarnya.
Bahkan, kata Rudi, saat ini terÂjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan dengan pasokan, di maÂna kebutuhan energi dalam 10 tahun terakhir tumbuh rata-rata 7 persen per tahun. Meskipun peÂmerintah melakukan pengheÂmaÂtan, pertumbuhannya tetap 7 perÂsen karena Produk Domestik BruÂto (PDB) Indonesia terus naik. SeÂmentara kemampuan pasokan energi dalam negeri terbatas.
“Akibatnya, kita segera menÂjadi net energy importer dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kita harus berupaya secara makÂsimal mencegah kondisi tersebut jangan terjadi,†tegasnya.
Dia menjelaskan, ketergantuÂngan terhadap sumber energi berbasis fosil dalam bauran enerÂgi nasional masih tinggi, yaitu minyak bumi 47 persen, gas alam 21 persen dan batubara 26 persen. Dengan demikian, perÂekoÂnomian Indonesia masih diÂpengaruhi oleh fluktuasi harga energi, khususnya minyak bumi global yang sangat tidak stabil.
Vice President Corporate CoÂmmunication Pertamina Ali MuÂdakir mengatakan, impor BBM untuk memenuhi kebutuÂhan masÂyarakat Indonesia cukup besar. Dalam kurun waktu tiga buÂlan terakhir, jumlah impor minyak perusahaan pelat merah itu meÂnembus 25 juta barel. “ImÂpor BBM itu 25 juta barel per 3 bulan untuk memenuhi kebuÂtuhan BBM nasional. PerÂtamina kan untuk memenuhi masyaÂrakat,†katanya.
Menurut Ali, dengan adanya impor BBM tersebut, Pertamina menjamin pasokan BBM untuk masyarakat tetap terjaga. SebaÂgai konsekuensinya, perseroan harus melakukan impor.
Wakil Ketua Komisi VII DPR Zainuddin Amali mengatakan, tingginya nilai impor BBM kaÂrena produksi minyak dalam negeri masih lebih kecil dibanÂding konsumsi. “Impor sulit diÂhindari jika produksinya terus turun,†katanya.
Saat ini, kebutuhan BBM daÂlam negeri mencapai 1,4 juta barel per hari, sedangkan proÂduksi minyak dalam negeri haÂnya bertengger di angka 890 ribu barel per hari.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas KeÂmenterian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), selama Juli 2012 rata-rata harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) mencapai 102,88 dolar AS per barel, naik 3,8 dolar AS per barel dibanding Juni 99,08 dolar AS per barel.
Kenaikan tersebut disebabkan beberapa faktor, yaitu memaÂnasÂnya kondisi Timur Tengah dan turunnya produksi minyak dari negara-negara OPEC dan neÂgara-negara Non OPEC. Kondisi itu tentu akan berdampak pada membengkaknya biaya subsidi BBM dalam APBN. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23