ilustrasi, daging
ilustrasi, daging
Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengÂaÂtaÂkan, kuota impor daging sapi yang ditetapkan pemerintah pada 2012 masih belum menÂcukupi karena kebutuhan terus meÂningÂkat. Hal itu, menurutnya, meÂnyeÂbabkan pasokan daging sapi yang kurang serta harga di paÂsaran terus naik terutama menÂjelang Lebaran ini.
“Kondisi di lapangan saat ini harga daging sapi sudah menÂcapai 93 ribu per kg. Kalau pemeÂrintah tidak segera menambah kuota, maka dikhawatirkan harga akan terus naik hingga meÂnemÂbus 100 ribu per kg. Masalah itu harus segera disikapi, jangan samÂpai terjadi gejolak di maÂsyaÂrakat maupun kalangan pelaku usaÂha,†tegas Sarman kepada RakÂyat MerÂdeka di Jakarta, kemarin.
Ketua Komite Daging Sapi Jakarta ini menjelaskan, penuÂrunan kuota dari 100 ribu ton paÂda 2011 menjadi sekitar 34 ribu ton pada 2012 berdampak pada kurangnya pasokan daging sapi. Asumsi pemerintah mengatakan, saat ini ada 20 ribu ton daging sapi lokal. Namun kenyataannya, daging lokal belum dapat meÂcuÂkupi kebutuhan dalam negeri, sehingga masih terjadi kenaikan harga dan kelangkaan daging di kalangan pelaku usaha.
Pemerintah, menurut Sarman, harus segera menyikapi karena industri pengolahan memÂbuÂtuhkan bahan baku daging seÂperti sosis, bakso, kornet dan seÂjeÂnisnya. Selain itu, pelaku usaha di bidang horeka (hotel, restoran, kafe dan katering) juga memÂbuÂtuhkan bahan baku daÂging dalam menjalankan usahanya, ikut meÂrasakan dampak keterÂbatasan paÂsokan daging.
“Horeka di Jakarta kan jumÂlahnya ribuan. Mereka pasti saÂngat memÂbutuhkan pasokan, khuÂsusÂnya daÂging sapi. Termasuk pengusaha hotel yang khawatir tak mendapat paÂsokan daging menÂjelang hari raya karena karena terÂbatas kuotanya,†jelasnya.
Dia mengaku pro terhÂaÂdap daÂging lokal serta mengÂinginkan terwujudnya kemanÂdiÂrian paÂngan. Namun, pada kenyataÂanÂnya daging lokal belum mampu meÂmeÂnuhi kebutuhan pasar.
“PemeÂrintah melalui KemenÂterian PerÂtaÂnian meÂnyatakan saat ini tersedia 20 ribu ton daÂging lokal. Kalau memang ada, keÂnapa kelangkaan serta keÂnaikan harga sekarang ini terÂjadi?†tanyanya.
Sarman juga mengungkapkan, 8.300 ton daging untuk Juli samÂpai Desember tidak masuk akal. Sebab, kuota tahun ini haya 34 riÂbu dibandingkan 100 ribu ton tahun lalu. Kuota dipotong 66 persen dengan asumsi daging lokal mampu penuhi pasar, naÂmun kenyataannya tidak.
“Mulai Maret lalu kami sudah samÂpaikan kepada pemerintah. Mulai bulan ini saat RamadÂhan dan menjelang Lebaran perÂminÂtaan meningkat, sementara keterÂsedian semakin langka,†ujarnya.
Ketua Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI) SuÂharjito mengatakan, harga daÂging pada periode puasa dan Lebaran tahun ini merupakan harga terÂtinggi selaÂma beberapa tahun terÂakhir akibat pemerintah memangÂkas drastis kuota impor daging sapi. MeÂnurutnya, kalauÂpun harÂga turun pada pekan perÂtama RaÂmadhan, hal itu lebih diÂsebabkan oleh permintaan yang melemah karena harga yang terÂlampau tingÂgi menjelang puasa.
Pihaknya, kata Suharjito, meraÂgukan pernyataan pemerintah yang menyebutkan stok daging sapi lokal cukup, bahkan surplus 41.123 ton pada periode Lebaran ini. Menurutnya, harga daging sapi tak akan melambung seÂtinggi sekarang jika pasokan memadai.
“Kalau harga naik seperti ini, harusnya KeÂmenterian PerdagaÂngan bisa meÂnyampaikan ke KeÂmenterian Pertanian bahwa sapi lokal belum siap dan harus meÂnempuh cara lain,†tandasnya.
Sementara di daerah, harga daÂging sapi terus merambat dan diÂprediksi bisa melejit ke kiÂsaran Rp 80 ribu per kg. Padahal di hari biasa, harga daging hanya Rp 60 ribu-65 ribu per kg. “Kalo bulan puasa memang naik,†kata Wahyu, pedagang daging sapi di pasar tradisional Banjarnegara, Jateng.
Sebelumnya, Dirjen PeterÂnakan dan Kesehatan Hewan Kementan Syukur Iwantoro mengatakan, keÂbutuhan daging sapi di dalam negeri masih surplus 20 ribu ton. Daging terÂsebut berasal dari sapi lokal dan sapi bakalan eks impor. “Untuk konsumsi masyarakat dan horeka masih surplus,†ujarnya.
Usai meninjau Pasar Mayestik, Jakarta kemarin, Menteri PerdaÂgangan Gita Wirjawan berjanji akan terus memantau bahan keÂbutuhan, terÂmasuk daging.
“Pantauan harga di Pasar MaÂyestik cukup stabil. Misalnya beras, harganya cukup terjangkau di kisaran Rp. 8.000-9.000/kg, tergantung jenisnya. Lalu, gula pasir dan minyak goreng curah masing-masing seharga Rp. 13.000/kg dan 12.000/kg,†jelas Gita, kemarin. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23