Dahlan Iskan
Dahlan Iskan
“Perusahaan asal Jepang, InÂdia, perusahaan-perusahaan swasta Indonesia, dan BUMN Indonesia berminat membeli Inalum,†kata Dahlan usai RaÂpat Pimpinan Kementerian BUMN bersama Direksi PT TeÂleÂkomunikasi Indonesia di GeÂdung Telkom Jakarta, kemarin.
Menurut Dahlan, banyakÂnya perÂuÂsahaan pesaing yang ingin maÂsuk ke Inalum memÂbuat BUMN Indonesia harus memÂperÂsiapÂkan diri dari sisi kapasitas mauÂpun kemamÂpuan keuangan.
Dia menjelaskan, konsep pemÂbelian saham Inalum terÂlebih dahulu diambil alih oleh pemerintah dalam hal ini KeÂmenÂterian Keuangan dengan penÂdÂanaan yang sudah disetujui DPR. Kemudian, siapa yang meÂnawar dengan harga tertingÂgi, maka perusahaan tersebut berhak memiliki Inalum.
Pemerintah pada berbagai kesempatan menyatakan siap mengambil alih pengelolaan Inalum pasca berakhirnya MasÂter Agreement dengan NipÂpon Asahan Aluminium (NAA) Jepang pada 2013.
Untuk itu, Pemerintah IndoÂnesia dan Jepang akan berunÂding mulai Agustus 2012 unÂtuk melakukan negosiasi yang diÂharÂapkan hasilnya dapat dipuÂtuskan Oktober 2012.
Pemerintah telah memÂperÂsiapkan Pusat Investasi PemeÂrintah (PIP) sebagai BaÂdan LaÂyanan Umum (BLU) yang akan melakukan investasi pemÂbelian saham Inalum deÂngan menyiÂapÂÂkan sekitar Rp 7 triliun. AdaÂpun sumber dana dihaÂrapkan dari APBN, sebaÂnyak Rp 2 triÂliun diambil dari APBN 2012 dan sisanya dari APBN 2013.
Berdasarkan perhitungan keÂwajiban yang harus dibayar Pemerintah Indonesia, untuk mengambil alih Inalum pasca berakhirnya kesepakatan peÂngeÂlolaan Inalum oleh NAA adaÂlah sebesar 762 juta dolar AS.
Selain itu, untuk pengemÂbangan Inalum, juga dibuÂtuhÂkan anggaran sekitar 1,2-1,4 miÂliar dolar AS yang akan diÂgunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi aluminium dari 200.000 ton menjadi 410.000 ton.
Dahlan juga memberi masuÂkan bahwa pemerintah bisa tidak melakukan lelang langsung, teÂtapi diserahkan kepada BUMN.
“Terserah pemerintah. TingÂgal pilih. Tapi mestinya keberÂpihakan pemerintah kepada peÂrusahaan milik negara harus leÂbih besar,†ujarnya.
Dari sisi pendanaan, bekas Dirut PLN ini mengatakan, BUMN akan selalu siap dengan konsorsium dengan pendanaan yang sangat luar biasa besar.
Kementerian Keuangan (KeÂmenkeu) juga pernah meminta DPR menyetujui pengambilÂalihan aset PT Indonesia AsaÂhan Alumunium (Inalum) dari Jepang. Proses tersebut akan diÂlakukan pemerintah paling lambat 31 Oktober.
“Kami mengusulkan pengÂgunaan dana investasi untuk meningkatkan kapasitas pemeÂrintah termasuk hak-hak yang diperoleh melalui perjanjian atau kerja sama, di antaranya pembelian Inalum,†ungkap Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23