ilustrasi, tempe
ilustrasi, tempe
Aksi mogok produksi para peÂrajin tempe dan tahu membuat pemerintah bereaksi. Kemarin, pemerintah langsung menggelar rapat koordinasi (rakor) terkait keÂnaikan harga kedelai dan kelangÂkaan tempe-tahu di lapangan.
Rapat dilakukan di kantor Menko Perekonomian Hatta RaÂjasa yang dihadiri Menteri PerÂtanian (Mentan) Suswono, Wakil Menteri Perdagangan (WamenÂdag) Bayu Krishnamurti, Dirjen Industri Kecil dan MeÂneÂngah KeÂmenterin Perindustrian (KeÂmenÂperin) Euis Saedah, Dirut Perum Bulog Sutarto Alimoeso dan KeÂpala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brojonegoro.
Rapat yang dimulai pukul 07.00 WIB dan berakhir pukul 10.00 WIB itu memutuskan mengÂhapus BM impor kedelai.
Wamendag Bayu Krisnamurthi mengatakan, penghapusan BM impor untuk menekan harga keÂdelai yang terus melonjak. ApaÂlagi, kenaikan itu sudah memÂbuat para produsen tahu dan tempe mogok berproduksi.
Namun, kata Bayu, kebijakan pembebasan itu sifatÂnya hanya sementara. MenuÂrutnya, jika konÂdisi harga kedelai di pasar global sudah normal, itu akan dicabut.
“Dengan adanya kebiÂjakan pemÂbebasan bea maÂsuk kedelai, maka harga impor kedelai akan turun sekitar Rp 350-400 per kilogram,†katanya.
Menurut Bayu, saat ini paÂsokan keÂdelai sedang mengalami kekuÂrangan karena produksinya di dalam negeri menurun 8,4 perÂÂsen per tahun. Karena itu, piÂÂhakÂnya akan membuka impor kedelai seÂcara langsung oleh koÂperasi keÂdelai dari negara proÂdusen pengÂhasil kedelai.
Mentan Suswono mengatakan, penghapusan BM ini konÂdisinya darurat. Tapi, kebijaÂkan itu hanya diberlakukan paling lamÂbat akhir tahun. Saat ini, KeÂmenÂterian KeÂuangan sedang menyusunnya.
Menurut dia, keputusan itu diÂkeluarkan mendadak karena peÂmeÂrintah kekurangan lahan unÂtuk menanam kedelai dan para peÂtani menganggap lebih mengÂunÂtungÂkan untuk menanam jagung.
“Problem kita ini untuk kedelai adalah lahan. Sejak awal saya meÂÂnyampaikan untuk bisa swaÂsemÂbada itu butuh minimal (tamÂbaÂhan) 500.000 hektar,†ujarnya.
Kepala BKF Kementerian KeÂuangan Bambang BrodjoneÂgoro menambahkan, kemungkinan pemÂÂberlakuan kebijakan pemÂbeÂbasan BM impor kedelai ini saÂma seperti yang pernah diputusÂkan pemeÂrinÂtah tahun lalu, keÂtika harÂga kedelai mahal akibat anomali musim.
“Tim tarif akan berdisÂkuÂsi terÂlebih dahulu terkait impleÂmentasi kebijakan ini,†tandasnya.
Matikan Petani
Ketua Kerja Sama Antar LemÂbaga Dewan KeÂdelai Nasional Mukhlisin meÂngatakan, pembeÂbasan BM impor kedelai memaÂtikan para petani. Sekarang saja petani kedelai terus berkurang dan lahannya banyak dijual kaÂrena harganya terlalu murah.
“Sekarang harga kedelai cuma Rp 5.500 per kilogram. Rata-rata petani sekali panen (3 bulan) haÂnya mendapat 3 kwintal, kalau dikalikan harga tersebut maka seÂkali panen hanya mendapatkan Rp 1,6 juta, itu belum dikurangi biaya produksi,†katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Mukhlisin menilai, pemerintah lebih berpihak kepada pedagang. Sementara tuntutan petani yang meminta ada harga pembelian pemerintah (HPP) kedelai tidak pernah didengar.
Penasihat Petani Kedelai JemÂber ini juga mengatakan, kebiÂjakan tersebut syarat dengan keÂpentingan importir. “Ini perÂmaiÂnan importir. Produsennya kaya, petaninya tetap miskin,†tegasnya.
Kebijakan tersebut juga akan berdampak pada sulit tercapainya terget swasembada kedelai kareÂna impor terus membanjir pasar dan harganya lebih murah. Saat ini, jumlah petani terus berkurang dari 40 ribu hektar pada 1992, sekarang tinggal 7 ribu hektar.
Untuk diketahui, kemarin, para produsen dan perajin tahu tempe melakukan mogok produksi dan jualan sebagai bentuk protes tingÂginya harga kedelai. Alhasil, di beberapa pasar, kedua jenis maÂkanan wong cilik itu sulit ditemui.
Kepala Badan Ketahanan PaÂngan dan Penyuluhan (BKPP) Daerah Khusus Ibukota YogyaÂkarta Asikin Chalifa mengaku biÂngung dengan kenaikan harga keÂdelai. Padahal, stok kedelai di Yogyakarta aman. Dia meÂnilai, kenaikan harga kedelai itu tidak wajar, sebab stok kedelai masih mencukupi sekitar 25 ribu ton.
“Stok masih memadai. SebaikÂnya kita jangan tergantung pada impor. Kenaikan ini tidak wajar sehingga bisa memicu kepaniÂkan,†cetus Asikin. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23