ilustrasi, Kedelai
ilustrasi, Kedelai
“Ini perlu ditanggapi serius. Saya tidak bisa tinggal diam terÂkait langkanya kedelai yang meÂmiliki dampak menghilangÂnya tahu dan tempe,†kata Menteri BUMN Dahlan Iskan di Gedung Bank Indonesia (BI) Jakarta, kemarin.
Menurut dia, kondisi ini harus dijadikan pembelajaran dalam pengelolaan produksi, khususnya kedelai agar tidak terjadi lagi di kemudian hari. Untuk itu, dia siap membantu dalam penyediaan pasokan kedelai melalui perusaÂhaan-perusahaan BUMN. Dia menginstruksikan agar proÂgram penanaman empat komoÂditas tersebut dimulai tahun depan.
“BUMN memang belum bisa membantu untuk semua komoÂditas. Saat ini kami masih fokus dalam bidang pertanian, gula dan peÂternakan. Tapi kini mulai meÂrambah kedelai, jagung, sorgum dan sagu,†ungkapnya.
Bekas Dirut PLN ini mengakui keterbatasan BUMN memenuhi semua keinginan masyarakat akiÂbat sudah adanya instansi yang bertanggung jawab mengatur pengadaan komoditas tersebut.
Namun, kata dia, Kementerian BUMN sudah menugaskan peÂngemÂbangan sagu dan sorgum kepada Perum Perhutani dan PT PerÂkebunan Nusantara.
Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron mengatakan, persoalan naiknya harga kedelai memang telah berpengaruh pada produksi tempe dan tahu.
“Kami akan memanÂtauÂnya seÂcara seksama. Persoalan ini maÂsuk katagori emergency, harus ada emergency respons yang tepat dan cepat,†kata Herman kepada wartawan, kemarin.
Politi Partai Demokrat itu pun meminta Menteri Pertanian SusÂwono memastikan betul akar maÂÂsaÂlahnya itu biar publik meÂngeÂtaÂhuinya. “Jika menyangÂkut stok tenÂtuÂnya perlu ada peÂnamÂbahan yang aman untuk jangka waktu tertenÂtu. Tetapi jika ini permainan spekulan, harus ditinÂdak tegas,†tegasnya.
Perlu diketahui, kebutuhan keÂdelai dalam negeri sekitar 2,25 juta ton, di mana Indonesia baru mampu memproduksi dalam negeri sekitar 779 ribu ton. Jadi masih kekurangan sekitar 1,4 juta ton yang dipenuhi melalui impor dari Amerika Serikat (AS).
Saat ini AS sebagai negara pengÂÂhasil utama kedelai sedang mengaÂlami muÂsim kering. MaÂkanya, ada peÂnuÂrunan produktiÂvitas dan harganya menjadi naik. Ini yang menyeÂbabkan harga kedelai di InÂdonesia tinggi.
Meski demikian, Herman meÂngaÂtakan, ada hikmah di balik semua ini. Untuk itu, dia meminta keÂpada semua instansi terkait berÂpikir dan bekerja keras mengatasi problem kedelai. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23