ilustrasi, migas
ilustrasi, migas
Rencananya, awal AgusÂÂÂÂtus mendatang, Menteri EnerÂgi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik akan meÂreÂvisi PerÂatuÂran Menteri (Permen) NoÂmÂor 22 Tahun 2008 tentang DaÂna CSR (tanggung jawab peruÂsaÂhaan pada lingkungan sosial).
DaÂlam aturan main yang baru itu, seÂsuai yang diusulkan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP MiÂgas), biaya yang dikeluarkan untuk CSR akan dimasukkan ke dalam cost recovery (biaya opeÂrasi dan investasi).
Dengan begitu, berarti biaya CSR akan menjadi beban sekaÂliÂgus mengurangi pendapatan peÂmeÂrintah. Apalagi, jumlahnya tiÂdak kecil. Jika selama tiga tahun terÂakhir ini (sejak lahirnya PerÂmen 22/2008) ongkos CSR haÂnya seÂkitar Rp 450 miliar, kelak akan menÂÂjadi sekitar Rp 2 triliun per tahun.
Menurut pengamat permiÂnyaÂkan Kurtubi, CSR merupakan tangÂÂgung jawab seluruh peruÂsaÂhaan. Jadi bukan hanya berlaku unÂtuk perusahaan migas. Dan itu suÂdah ada peraturannya.
Para pengamat lain meÂngataÂkan, dimasukkannya dana CSR ke dalam cost recovery memÂÂbuka peluang terjadinya mark up seperti yang masa lalu. PaÂdahal, dalam beberapa tahun terÂakhir, pemeÂrintah dan DPR terus beruÂsaha meÂÂnekan cost recovery yang semakin terasa membebani anggaran.
Untuk 2012 ini, misalnya, kata Kurtubi, para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) mengajukan cost recovery hingga senilai 17,4 miliar dolar AS. Tapi setelah ‘ditawar-tawar’ akhirnya turun menjadi 15,1 miliar dolar AS. LuÂmayan turun jika dibanÂdingÂkan dengan angka tahun lalu yang hanya 15,5 miliar dolar AS.
“Sekarang, ketika baru berhasil melakukan penghematan 400 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,76 triÂliun, malah mau dipakai untuk menanggung CSR Rp 2 triliun. Padahal, itu sepenuhnya merupaÂkan kewajiban perusahaan yang bersangkutan,†sentil Kurtubi.
Anggota Komisi VII DPR DeÂwi Aryani mengatakan, meski diÂanggap mempunyai tujuan yang baik untuk masyarakat, namun rencana pemasukan CSR ke daÂlam cost recovery jangan samÂpai memberatkan APBN.
“SeÂmenÂtara kita tangkap seÂbaÂgai niat baik untuk memberÂdayaÂkan maÂsyaÂrakat, tapi juga jangan sampai memÂberatkan APBN seÂkarang dan ke depan. Harus diÂimbangi deÂngan bertamÂbahnya peneriÂmaan negara dari sektor migas ya,†ujarnya.
Menurut Dewi, rencana peÂmasuÂkan dana CSR ke dalam cost recovery saat ini hanya baru waÂcana dan belum secara resmi diÂajukan pemerintah kepada DPR.
“Kita tunggu saja bagaiÂmana perhitungan matematis dan juga dampak sosial politiknya. Yang penting apakah manÂfaat untuk rakyat ada dalam renÂcana ini. InÂtinya sejauh semua meÂmang untuk kemaslahatan maÂsyarakat, tentu akan dipertimÂbangÂkan maÂtang oleh DPR,†ungkapnya.
Sedangkan BP Migas meneÂgaskan, dana CSR yang diÂperÂoleh dari dividen KKKS meÂruÂpaÂkan bagian fasilitas invesÂtasi keÂgiatan eksplorasi dalam rangÂka membaÂngun kehidupan ekoÂnomi masyaÂrakat.
“Ada angÂgaÂpan dana CSR seÂolah-olah hanya mengÂhamburÂkan uang neÂgara. Bahkan dana CSR tersebut berÂasal dari AngÂgaran PenÂdapaÂtan Belanja NegaÂra (APBN). Hal itu tidak benar sama sekali,†ujar Deputi PengÂendalian Operasi BP Migas Gde PradÂnyana.
Ditegaskan Gde, dana CSR bukan sumbangan dan donasi. BP Migas ingin mengubah persepsi yang selama ini menganggap daÂna itu merupakan bentuk bagi-bagi uang kepada masyarakat. PadaÂhal, dana CSR untuk meÂningÂkatkan keÂhidupan masyaraÂkat setempat. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23