ilusrasi/ist
ilusrasi/ist
itu adalah janji yang dilontarkan Mendikbud. Apakah keÂbijakan itu memÂbuat pendidikan, terutaÂma di perguÂruan tinggi negeri (PTN) menjadi murah?
MenjaÂwab pertanyaan itu, MenÂteri Nuh mengatakan, seÂbagian Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang disetor oleh seluruh PTN tiap tahun akan dikemÂbalikan ke PTN lagi.
Dari total setoran PTN ke neÂgara senilai Rp 12 triliun, kataÂnya, sebesar Rp 3-4 triliun akan diÂmanfaatkan untuk keperluan peÂngembangan kampus seperti pemÂÂbangunan gedung, biaya riÂset maupun beasiswa bagi dosen.
“Jika ini sudah diberlakukan, maka tak akan ada lagi pungutÂan yang dibebankan kepada maÂhaÂsiswa lagi,†jelas Nuh di JaÂkarta, kemarin.
Pembiayaan non-SPP ini seÂbenarnya berawal dari pemÂberÂlakuan sistem SPP tunggal. SPP tunggal, kata Nuh meÂrupakan SPP yang dibebankan kepada maÂhasiswa hanya satu kali daÂlam seÂtahun jika pakai sistem SPP tungÂgal ini. Dari hitungan itu, dipisahÂkan lagi antara kewaÂjiban peÂmerintah dan masyarakat.
Nuh mengklaim, dana BO PTN yang akan diterima bisa melebihi biaya yang dibutuhkan kampus. Dari BO PTN itu saja, katanya, beberapa PTN terkejut karena maÂÂsih ada dana yang berlebih, seperti Universitas Indonesia (UI) yang mendapat Rp 100 miÂliar dan Universitas Trunojoyo Madura mendapat Rp 15 miliar.
Mendikbud sudah muÂlai mengÂÂÂgulirkan BO PTN Rp 1,5 triliun kepada PTN yang memÂbuÂka jalur mandiri yang memuÂngut biaya ke mahasiswa, tiap PTN pun mendaÂpat sekitar Rp 200 - Rp 300 juta. BO PTN akan digulirkan kepada 92 PTN yang sudah memiliki dasar huÂkum yang jelas seperti tercantum dalam Undang-UnÂdang PenÂdiÂdikan Tinggi (UU PT).
“Kalau pun masih ada puÂngutan kepada calon mahasiswa di PTN selain SPP awal, itu terjadi karena subsidi pemerintah ke PTN selama ini masih rendah. Mau tidak mau, kampus harus mengambil iuran dari maÂsyaÂrakat,†ujar Nuh.
Selain itu, Kemendikbud juga berencana menetapkan biaya studi yang akan dibeÂbanÂkan keÂpada calon maÂhaÂsiswa, sehingÂga besaran biaya kuliah tidak laÂgi ditentukan oleh pihak PTN.
“Seperti program studi arsitek, biaya SPP hanya Rp 1,5 juta unÂtuk wilayah tertentu, PTN tidak boleh menetapkan biaya lebih dari angka ini,†katanya.
Pihak Kemendikbud pun akan segera menyebarluaskan stanÂdaÂrisasi tersebut sebelum tahun ajaÂran baru dimulai kepada PTN, agar masyarakat dapat mengÂukur kemampuannya. Bahkan, pihÂakÂnya tidak akan segan untuk meÂmotong subsidi tersebut, jika ada PTN yang keluar dari plaÂfon SPP yang telah ditentukan.
Pengamat penÂdiÂdikan dari Perguruan Taman Siswa DarmaÂningtyas menilai, kebijakan peÂmerintah soal BO PTN itu tak akan begitu saja membuat PTN menjadi murah.
Menurutnya, biaya pendidikan di perguruan tinggi saat ini masih mahal. SeÂkarang banyak anak dari keÂluarga miskin yang sudah keder atau takut duluan saat mendengar bahwa belajar di PTN itu butuh biaya hingga puluhan juta rupiah.
“Jangankan mendaftar, berÂmimÂpi untuk mendaftar ke PTN pun mereka tidak berani,†ucap DarÂmaningtyas.
Mahalnya biaya penÂdiÂdikan, terÂutama di PTN, lanÂjutnya, gara-gara urusan pendidikan diserahÂkan keÂpada pasar. Jika hal itu diÂbiarkan, akan berdampak pada masa depan banyak anak bangÂsa dari kaÂlangan tidak mampu.
Koordinator Divisi Monitoring Publik Indonesia Corruption Watch (ICW) Febri Hendri meÂnilai, sekalipun biaya kuliah seÂmaÂkin murah, pemerintah seÂhaÂrusÂnya bisa menggratiskan biaya pendidikan di perguruan tinggi negeri.
“Masih besar dana AngÂgaran Pendapatan dan Belanja NeÂgara (APBN) yang dikorupsi seÂhingga mengurangi dana yang seÂhaÂrusÂnya diberikan bagi perÂguÂruan tinggi untuk membiayai opeÂraÂsional,†kata Febri.
Untuk itu, ICW meminta seÂtiap PTN yang mendapat biaya operasional mesti terbuka dan transparan dalam penggunaan dana tersebut. Tak ada lagi peÂluang bagi pihak-pihak tertentu untuk menyalahgunakannya.
Anggota Komisi X DPR RaÂihan Iskandar mengharapkan, setiap PTN tidak meÂnyaÂlahÂguÂnakan dana BO. Pasalnya, paÂyung hukumnya sudah jelas yang mengatur akuntabilitas dan transÂparansi penggunaan dana BO.
Undang-Undang Perguruan TingÂgi (UU PT) yang telah disahÂkan pekan lalu, kata Raihan, sudah mengatur bagaimana peÂngaÂwaÂsanÂnya. “Jika terjadi peÂnyaÂlahÂgunaan dana, PTN diberi sanksi berupa penghentian dana BO hingga mencopot izinnÂya,†kata Raihan. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23