ilustrasi, kilang minyak
ilustrasi, kilang minyak
“Kita tidak bisa membangun kilang dengan biaya sendiri kaÂrena mahal,†ujar Wakil Menteri EnerÂgi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, untuk memÂbaÂngun kilang baru dibutuhkan inÂvesÂtasi Rp 100 triliun. Namun, yang terjadi saat ini anggaran baÂnyak terserap untuk memenuhi subsidi energi. Bahkan, dengan anggaran subÂsiÂdi energi (listrik dan BBM) saat ini sudah menÂcapai di atas Rp 200 triÂliun.
Menurutnya, jika peÂmeÂrintah berani mencabut subsidi yang besar itu, maka pemÂbaÂnguÂnan kiÂlang bukan hal yang sulit. “DeÂngan anggaran sebesar itu, kita bisa bangun dua kilang sekaÂliÂgus,†katanya.
Tapi, Rudi mengatakan, pemeÂrintah saat ini belum berani untuk menÂcabut beban itu, sehingga angÂgaran negara habis untuk mensubsidi sektor tersebut.
Terkait kerja sama PT PertaÂmina dengan Kuwait Petroleum InterÂnational Company (KPIC) dan Saudi Aramco Asia Company LiÂmited (SAAC) untuk pemÂbaÂngunan kilang Balongan, Jawa BaÂrat dan Tuban, Jawa Timur, dia menÂdukungnya.
“Selama subsidi masih besar, pemÂbangunan kilang perlu kerja sama dengan swasta,†katanya.
Namun, terkait banyaknya perÂmintaan insentif dari para inÂvesÂÂtor tersebut, Rudi menyerahÂkan seÂÂpenuhnya kepada pemerintah.
Menteri Perindustrian (MenÂperin) MS Hidayat mengatakan, pemÂbangunan kilang tidaklah muÂÂrah dan perlu investasi besar. Saat ini pemerintah masih mengÂkaji permintaan insentif dari dua inÂvestor tersebut.
Dia juga meminta pemerintah meÂngusahakan dulu permintaan inÂsentif dari dua perusahaan terÂsebut. “Usahain, jangan bilang suÂsah dulu. Apalagi studinya baru seÂlesai Agustus. Seharusnya meÂnunggu itu dulu,†tandasnya.
Wakil Direktur ReforMiner InÂstitute Komaidi Notonegoro meÂnyayangkan ada perbedaan sikap di antara jajaran pemerintah daÂlam membangun kilang minyak. “Belum lama kita mendengar kaÂtanya pemerintah mau bangun kiÂlang sendiri. Sekarang justru diÂbilang tidak bisa,†katanya.
Menurut dia, ada beberapa opsi dalam membangun kilang di daÂlam negeri. Misalnya, bekerja saÂma dengan swasta atau memÂbaÂngunÂnya dengan biaya sendiri.
Selain itu, kata dia, harus ada koÂmitmen kuat dari pemerintah unÂtuk membangun kilang. ApaÂlagi, Indonesia sudah lama tidak membangun kilang. Jadi, saat ini jangan saling menyalahkan, apaÂlagi terus mengkamÂbinghiÂtamÂkan anggaran subsidi BBM.
“Kilang yang ada sekarang hanya mampu memproduksi 700-800 ribu barel. Padahal, keÂbuÂtuhan dalam negeri 1,3 juta barel per hari, karena itu tidak aneh jika impor BBM kita tingÂgi,†katanya.
Untuk diketahui, Dirjen Migas ESDM Evita H Legowo mengaÂtakan, pemerintah akan memÂbaÂngun kilang sendiri dengan mengÂgunakan dana dari APBN.
“Cukup lama kami tunggu nggak jadi-jadi. Yang jelas seÂkarang pemerintah berniat memÂbangun kilang,†kata Evita
Menurut Evita, pembangunan kilang ini telah disetujui Menteri Keuangan. Dalam APBN 2013, pemerintah telah memasukkan anggaran pembangunan sebesar Rp 1 triliun untuk studi kelaÂyaÂkan. StuÂdi ini untuk mencari loÂkasi terÂbaik dan menentukan paÂsokan minyak mentah. PemÂbaÂngunan kilang ini diÂhaÂrapkan dapat dimulai pada 2015 dan seÂlesai pada 2019. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23