Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Garap Infrastruktur Jangan Cuma Gembar-gembor Dong

SELASA, 24 JULI 2012 | 08:00 WIB

Perlambatan ekonomi glo­bal masih memberikan angin se­gar buat aliran investasi yang ma­suk ke Indonesia. Pertum­buhan eko­nomi yang tinggi serta imbal hasil yang baik menjadi faktor deras­nya arus modal ma­suk ke dalam negeri.

Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan mendesak pe­merintah segera membangun in­frastruktur untuk mendukung de­rasnya investasi yang masuk.

“Pertumbuhan ekonomi global kan melambat hingga 2,5 persen, sedangkan Indonesia di atas 6 persen, sangat mungkin investasi mengalir dengan baik ke dalam negeri,” kata Fauzi, kemarin.

Berdasarkan analisis ini, dapat dikatakan aliran investasi di In­donesia masih cukup baik meski agak melamban. Menurut­nya, sangat penting bagi peme­rin­tah memberikan stimulus pem­ba­ngunan infrastruktur di In­do­nesia karena jika kondisi glo­bal me­lamban otomotis investasi swas­ta juga melamban.

Namun di sisi lain, investasi swasta pun bisa terkena dampak dari perlambatan ekonomi glo­bal ini. Oleh karena itu, peme­rintah ha­rus menggenjot sektor infra­struktur di dalam negeri.

Menurut Fauzi, infrastruktur sa­ngat menarik investor global dan investor swasta untuk masuk ke Indonesia. Ini harus di-observe de­ngan investasi di bidang publik me­lalui Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Eko­nomi Indonesia (MP3EI) dan ha­rus se­gera direalisasikan,” ucapnya.

“Pre­siden sudah bilang jangan sam­pai ada pepesan kosong, MP3EI jangan hanya gembar-gem­bor. Mari se­gera bangun in­fra­struktur yang menarik di In­do­nesia agar inves­tasi datang,” te­gas Fauzi.

Terkait infrastruktur, pertum­bu­han investasi hortikultura lokal terhambat dikarenakan lemahnya infrastruktur penunjang dari hulu (on farm) sampai hilir (off farm).

Oleh karena itu, pemerintah harus mendorong perbaikan in­frastruktur yang terintegrasi dan terencana agar dapat mening­kat­kan investasi hortikultura dalam negeri maupun luar negeri.

Anggota Komisi IV DPR Ma’mur Hasanuddin mengata­kan, usaha hortikultura di Indo­nesia umumnya pertanian rakyat de­ngan skala usaha kecil, ter­sebar, pengelolaan secara per­orangan dan kurang didukung  infrastruk­tur yang memadai. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya