Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Minim Sanksi Bikin Harga Sembako Bertambah Liar

Hanya Menteri Gita Yang Terlihat Sidak Di Lapangan
MINGGU, 22 JULI 2012 | 08:31 WIB

.Dalam seminggu kemarin, masyarakat dibuat puyeng dengan kenaikan harga sembako. Ironisnya, para menteri hanya berani mengancam dan melakukan sidak.

Kesal dengan harga komoditas sembilan bahan pokok (Sem­bako), Menteri Perdagangan Gita Wirjawan terus melakukan Ins­peksi Mendadak (sidak). Sejak pagi hari, dia sudah blusukan ke­luar masuk pasar. Mulai dari Pasar Kramat Jati Jakarta Timur hingga Pasar  Tanah Tinggi, Tangerang.

Sayangnya, sidak Gita tersebut belum efektif menekan harga. Yang terjadi justru harga seperti daging tetap melonjak.

“Pasokan kebutuhan bahan pokok akan cukup hingga hari Raya Idul Fitri,” katanya setelah melaku­kan sidak di Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang, Kamis (19/7) malam. Harga daging sapi pada Juli sudah naik sebanyak tiga kali dan kini menembus Rp 78 ribu per kilonya.

“Harga daging sekarang Rp 78 ribu dan bulan ini sudah naik tiga kali, pas ketiganya mengalami kenaikan yang tinggi, sebelum­nya harga daging naik Rp. 2 ribu aja,” ujar pedagang Pasar Kra­mat Jati, Sanusi, Jakarta Timur.

Menurut Sanusi, kenaikan har­ga ini lantaran pembatasan da­ging sapi impor, sehingga da­ging sapi lokal menjadi naik. Ke­naik­an harga daging sapi menje­lang puasa juga dibenarkan Men­dag se­lama melakukan sidak ke pa­sar-pasar. Meski saat itu, Gita me­ngaku sudah mendapatkan ja­minan stok daging dari Ke­men­terian Pertanian (Kementan).

Sementara Menteri Pertanian Suswono berdalih, kenaikan harga daging sapi dipicu akibat konsumsi komoditi itu di Jakarta sangat tinggi ketimbang di daerah lainnya.”Kenaikan ini membuat konsumen daging di Jakarta hanya dari masyarakat mene­ngah-atas,” tambahnya.

Di daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak hanya daging sapi, daging ayam pun ikut naik. Jika sebelumnya harga daging ayam potong Rp 20 ribu per kilogram, kini harganya mencapai Rp 25 ribu. “Dari tempat pemotongan naik,” kata penjual daging di Pasar Mandilika, Bima, Sahrah.

Ia mengaku kenaikan harga ini sudah berlangsung sejak pekan lalu. Ia tidak tahu pasti penyebab ke­naikan harga daging. Yang pasti, kata dia, kenaikan harga daging sudah berlangsung dari tempat pemotongannya. “Kita ikut harga di tempat pemotongan. Kalau naik di sana (rumah potong hewan, Red), praktis harga yang kita pasang ikut naik juga,’’ jelasnya.

Rupanya, para pedagang ini tidak mau disalahkan. Mereka mengaku, kenaikan harga daging ini disebabkan minimnya stok. Karena, daging yang dijual itu kebanyakan berasal dari luar dae­rah.

Hal senada diungkapkan peda­gang lainnya, Amrin.  Ia menga­ku, kenaikan harga ini bukan permainan pasar. Namun, harga daging sudah naik di tempat pe­motongan. “Kalau dibilang ka­rena banyak permintaan, tidak juga. Masih biasa-biasa saja kok,’’ akunya.

Diakui oleh ekonom Indef Sri Hartati, koordinasi antar menteri dalam menangani gejolak harga sangat minim. Jika dilihat sepin­tas, maka hanya Mendag yang rajin melakukan sidak. Semen­tara menteri lain hanya terima laporan. Kondisi tersebut, lanjut dia, makin diperparah dengan tidak adanya kebijakan yang jitu dari pemerintah.

“Tata niaga sudah dikuasai oleh para tengkulak. Mereka lah yang kini mempermainkan harga, sementara pedagang hanya ikutan saja. Kalau dari tengkulak naik, maka di pedagang juga akan naik,” ulasnya. Untuk itu, dia me­nyarankan agar pemerintah pu­nya instru­men baru guna me­re­dam gejolak harga.  [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya