Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Inflasi Juli Bakal Naik Dua Persen

Disodok Harga Cabe & Telur
MINGGU, 22 JULI 2012 | 08:19 WIB

Menjelang ramadhan harga kebutuhan bahan pokok selalu mengalami kenaikan berkisar 5 -20 persen. Pemerintah terkesan tidak mampu menekan harga su­paya stabil. Berdasarkan pan­tauan di tingkat eceran dan pasar tradisional, beberapa komoditas sembako seperti gula pasir, mi­nyak goreng, daging ayam, dan telur ayam, naik dengan persen­tase bervariasi.

Pengamat ekonomi Yanuar Rizky memprediksikan, angka inflasi pada Juli akan meningkat. Tapi, dampak inflasinya akan lebih terasa dilevel masyarakat. Me­nurutnya, survey yang dilaku­kan oleh Badan Pusat Statistk (BPS) hanya melihat harga-harga di level pasar-pasar induk, bukan ditingkat harga akhir.

“Biasanya kalau di pasar induk inflasinya berkisar antara 2-5 persen. Nah kalau dengan angka segitu, harga di masyarakat akan naik sekitar Rp 5-Rp 15 ribu. Har­ga segitu sudah menyusahkan masyarakat. Termasuk kita-kita juga,” cetus­nya kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Yanuar melihat, permasalahan pokoknya berada pada distribusi komoditas yang amburadul. De­ngan mata rantai distibusi yang panjang dan memakan waktu, maka juga akan ikut mempe­ngaruhi harga dipasaran. “Penya­luran kebutuhan bahan pokok harus dipermudah. Jangan ada lagi pungutan liar yang menye­babkan pelaku usaha menaikkan harga barangnya. Selain itu juga stok kebutuhan selama hari raya juga harus dijaga,” sarannya.

Sementara itu, Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mem­perkirakan inflasi saat Ramadan naik hingga dua persen. Menurut­nya, kenaikan harga barang selalu terjadi setiap tahun. Peningkatan daya beli masyarakat meningkat di bulan Ramadhan. Ia memper­kirakan, inflasi year on year pada 2012 terjadi pada Juli hingga Agustus mencapai dua persen.

Biasanya inflasi itu dipicu ke­nai­kan harga bahan pangan, se­perti cabai, daging, dan telur. Per­gera­kan harga emas pun menjadi faktor pendukung. Untuk itu, dia memeinta pemerntah harus men­cari solusinya. “Pemerintah harus segera melakukan operasi pasar agar dapat mengontol kenaikan harga pangan sekaligus mence­gah peningkatan inflasi,” tegasnya.

Pakar ekonomi mikro Indef Ahmad Erani Yustika mengata­kan problem tersebut merupakan permasalahan klasik yang tidak pernah bisa diselesaikan oleh pe­merintah. Permasalahan ini harus segera ditangani oleh pemerintah.

Dikatakan Erani, hampir se­mua komoditas penting pangan Indonesia bergantung pada im­por. Seperti jagung, kedelai, da­ging, dan beras. “Karena impor maka kita sangat bergantung kepada harga di Internasional. Ter­lebih jika permintaan pasar domestik naik, maka harga di pasar akan ikutan naik,” jelasnya.

Ketika ditanyakan mengenai ulah spekulan yang menaikkan harga sembarangan, dia menya­rankan supaya pemerintah mem­buat kebijakan yang bisa mem­buat jera para oknum yang tidak bertanggung jawab.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi Juni 2012 mencapai 0,62 persen, di­picu oleh kenaikan harga bahan pangan yang melonjak. Adapun, inflasi pada enam bulan pertama tahun ini masih sebesar 1,79 per­sen dengan tingkat inflasi secara year on year mencapai 4,53 persen.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menuturkan,  agar har­ga menjadi normal, maka paso­kan harus tetap diamankan. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya