Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Yang Mainin Harga, Punya Duit & Jaringan

DPR Desak Agar Pengawasan Bulog Diaktifkan Lagi
MINGGU, 22 JULI 2012 | 08:14 WIB

.Sekretaris Asosiasi Peda­gang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran mengaku pedagang tidak punya kekuatan untuk me­mainkan harga. Menu­rut dia, se­mua jalur tata niaga di­kuasai oleh pihak-pihak yang punya modal dan jaringan.

“Bayangkan ada seorang petani mau menjual pro­duknya ke pasar, langsung di tengah jalan dicegat. Di borong semua produknya, lalu barang tersebut dijual lagi ke pa­sar. Pasti harganya akan dinaik­kan,” cetus­nya di Jakarta, kemarin.

Namun, dia mengakui, para pe­dagang sering jadi sasaran tem­bak maupun korban sidak, karena merekalah yang sering bersentu­han dengan konsumen. “Ketika harga naik, pedagang yang di­marah-marahin. Tapi mereka punya kekuatan apa nah kiosnya aja ukuran 2x1 meter,” timpal dia.

Ditanya solusi untuk mengen­dalikan harga, dia menyarankan agar pemerintah kembali “meng­hidupkan” Badan Urusan Logis­tik (Bulog). Sebab, di era peme­rintah Soeharto, Bulog sangat efektif ikut mengendalikan pasar. Tengkulak tidak bisa berkutik. “Tentu­nya dengan syarat, kalau (Bulog) dihidupkan lagi, jangan ada praktik-praktik korupsi seperti masa lalu,” sarannya.

Sementara Wakil Ketua Ko­misi IV DPR Firman Subagyo meng­u­sulkan fungsi Perum Bu­log dikuatkan kembali karena peranan BUMN itu sebagai pen­jamin ketersediaan pangan masih lemah dan lebih senang meng­impor daripada menyelamatkan petani.

Sesuai dalam draf Rancangan Undang-Undang tentang Peru­bahan atas Undang-Undang No­mor 7 Tahun 1996, menurut Fir­man, Bulog harus lebih di­berda­yakan. “Di dalam undang-undang yang lama, peranannya tidak spe­sifik dan terlalu umum,” ujarnya.

Politisi Beringin ini juga me­negaskan, fungsi Bulog harus di­perbaiki sebagai lembaga inde­penden dan bertanggung jawab pada ketahanan pangan. Ia me­nilai saat ini peran Bulog lebih mengarah pada bisnis. Bahkan, saat ini telah terjadi kerancuan ter­kait dengan harga patokan pe­merintah (HPP) karena Bulog tidak mengetahui pasti berapa HPP beras.  [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya