Berita

Sarah Lery Mboeik/ist

Harapan Masyarakat NTT, KPK dan BPK Tindaklanjuti Laporan Korupsi Gubernur Frans Lebu

SENIN, 16 JULI 2012 | 22:04 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Anggota DPD RI asal Nusa Tenggara Timur, Sarah Lery Mboeik memuji langkah masyarakat NTT melaporkan dugaan korupsi dana bantuan sosial (Bansos) Provinsi NTT senilai Rp 15,511 miliar kepada Komisi Pemberantasan Korupsi beberapa waktu lalu. Disinyalir kuat, Gubernur NTT Frans Lebu Raya terlibat dalam kasus tersebut.

Menurut Sarah, tindakan itu sudah benar. Bahkan ia mengaku turut mengetahui secara mendalam kasus tersebut. Bahkan, beberapa waktu lalu, Sara bersama Pengembangan Inisiatif Advokasi Rakyat (PIAR) NTT dan kelompok keuskupan NTT juga melaporkan kasusnya ke KPK.

"Laporan itu saya masukan ke KPK agar terjadi aksi pemberantasan besar-besaran praktek korupsi di NTT. Selain ke KPK, kita telah menyampaikan permintan kepada BPK RI untuk melakukan audit," terang dia dalam keterangan tertulisnya kepada Rakyat Merdeka Online (Senin, 16/7).


Dikatakan, maraknya praktek korupsi di NTT, salah satunya dugaan korupsi dana Baksos ini, menyebabkan kemiskinan di daerah asal pemilihannya itu tak bisa teratasi. Sangat miris, hanya kota Kupang dari 21 wilayah kabupaten yang ada di NTT yang tidak masuk kategori daerah tertinggal.

"Ini sudah lampu kuning. Tanda bahaya sudah di depan mata," katanya prihatin. Korupsi merupakan bagian dari pelanggaran HAM. Kejahatan kerah putih. Korupsi merugikan rakyat. Semakin hari rakyat semakin miskin. Dampaknya semakin tertinggal dari daerah lain," kata dia.

Sarah berharap KPK dan BPK menindaklanjuti pengaduan masyarakat NTT. Sebab dengan itulah harapan masyarakat NTT agar kemiskinan di sana bisa teratasi.

Kondisi di NTT ini juga dikhawatirkan peneliti Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) Jamil Mubarok. Di NTT, kata dia, jelas betul terlihat kemiskinan dan miss manajemen. Selain akibat praktek korupsi yang terus terjadi tanpa ada penanganan secara khusus baik dari pusat maupun daerahnya sendiri, juga karena lemahnya kualitas SDM dan kemampuan manajerial pemerintahan daerah di NTT sehingga menghambat gerak roda pembangunan di sana.

"Manajemen pemerintahan di sana (NTT) rendah, disiplin lemah dan kinerja tidak baik. Itu masih diperburuk dengan maraknya praktek korupsi, juga akibat lemahnya fungsi pengawasan,"  kata Jamil.

Ditegaskan dia, jika tidak ada pengawasan yang intensif terhadap maraknya praktek korupsi, maka aparat di NTT bisa semakin seenaknya menjalankan roda pemerintahan. Oleh karenanya, sebagai pintu masuk, maka harus segera dibongkar sejumlah kasus korupsi yang memiskinkan masyarakat di sana.

"Salah satunya dugaan penyelewengan dana bansos yang katanya melibatkan gubernur NTT dan sudah dilaporkan ke KPK. Itu harus segera diusut tuntas. Karena, KPK harus menyambut baik kesadaran masyarakat NTT yang melaporkan dugaan korupsi tersebut," tandas Jamil.[dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Selamatkan Aset Negara, UIN Jakarta Jalankan Integrasi SMA/SMK Triguna

Sabtu, 04 Juli 2026 | 02:16

KPK Sita Uang Rp1 Miliar Lebih dan Puluhan Kg Platinum Hasil Korupsi Bupati Langkat

Sabtu, 04 Juli 2026 | 02:00

UI Angkat Bicara soal Kajian LGBT Mahasiswa, Begini Tanggapannya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:48

Kronologi OTT Bupati Langkat, Mantan Anggota DPRD Sumut jadi Kurir Uang Suap

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:32

Badko HMI Sulbar Siap Kawal Kasus Kapolres Pasangkayu

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:16

Bupati Langkat juga Terima Cuan Jual Beli Jabatan Camat hingga Kepsek, Segini Nilainya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:56

Sinergi Kemensos-ITB Visi Nusantara Serap Lulusan Sekolah Rakyat

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:37

Bupati Langkat Diduga Minta Fee 17 Persen ke Timses Usai Raup Proyek Rp10,2 Miliar

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:12

Arief Poyuono Apresiasi Danantara Gandeng KPK Bersih-bersih BUMN

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:03

Bupati Langkat Syah Afandin dan Tim Sukses Tersandung Kasus Suap

Jumat, 03 Juli 2026 | 23:48

Selengkapnya