Berita

Antrean Di Pelabuhan Merak

Bisnis

Pengusaha Angkutan Rugi Rp 1,5 M Per Hari

Antrean Panjang Di Pelabuhan Merak
JUMAT, 06 JULI 2012 | 09:38 WIB

RMOL. Pemerintah tidak serius me­nye­lesaikan masalah infra­struktur penyeberangan. Ini terkait kem­bali terjadinya antrean panjang di Pe­labuhan Merak, Banten.

Wakil Sekjen Asosiasi Pengu­sahan Indonesia (Apindo) Franky Sibarani mengatakan, kondisi ini memperlihatkan pemerintah ti­dak siap mengantisipasi per­tum­buhan ekonomi dan kendaraan angkut yang cepat. Alhasil, an­trean kerap terjadi di pela­buahan.

“Pembangunan infrastruktur dan pengembangan pelabuhan juga masih sangat minim,” cetus Franky di Jakarta, kemarin.

Kondisi ini, menurutnya, mem­buat para pengusaha harus me­ngeluarkan biaya logistik tam­bahan 10-20 persen. Selain itu, untuk jenis makanan yang di­ang­kut menjadi cepat busuk. Sa­yangnya, Franky tak me­nyebut berapa kerugian yang ditanggung oleh para pengusaha akibat ke­macetan dan antrean panjang itu.

Menurut Franky, untuk tahun ini kerugian pengusaha lebih be­sar dibanding tahun lalu. Se­bab, dalam tahun ini sudah terjadi be­berapa kali antrean di pela­buhan. Karena itu, dia meminta pe­me­rin­tah serius mengantisipasi an­trean di pelabuhan.

Berdasrkan data Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor Jalan Raya (Organda), kerugian pengusaha angkutan akibat antrean di Pelabuhan Merak pada 2011 mencapai Rp 1,5 miliar per hari.

Ketua Umum DPP Organda Eka Sari Lorena meng­ung­kap­kan, setiap harinya Pelabuhan Merak melayani hingga 3.300 truk yang menyeberangi Pulau Jawa dan Sumatera. Namun, ka­pasitas kapal dan pelabuhan ha­nya mampu menampung se­kitar 1.850-2.100 truk per hari.

Ia menilai, penumpukan ken­daraan di pelabuhan tersebut di­sebabkan tidak adanya upaya pemerintah untuk mengantisipasi pertumbuhan kendaraan yang meng­gunakan jasa penye­be­ra­ngan tersebut. Kapasitas kapal yang melayani penyeberangan Merak-Bakauheni nyaris tidak mengalami pertumbuhan dalam 10 tahun terakhir.

Padahal dalam tiga tahun ter­akhir, pertumbuhan kendaraan khususnya truk mencapai 8-10 persen. Selain itu, terjadi peru­ba­han ukuran truk dari light truck menjadi heavy truck karena truk besar dapat menampung kapa­sitas yang lebih besar. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya