Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Penyatuan Zona Waktu Mulai Oktober Ini Terancam Batal

KAMIS, 05 JULI 2012 | 08:05 WIB

RMOL.Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian masih menunggu arahan Presiden SBY untuk menetapkan ke­pas­tian penyatuan zona waktu hingga akhir Juli ini. Usulan agar satu zona waktu dimulai 20 Oktober 2012 bisa batal.

“Tanggapan dari Presiden be­lum. Batas waktunya adalah pertengahan sampai akhir Juli ini, kita mengharapkan ada arah­an (untuk sosialisasi),” kata Deputi Menteri Bidang In­fra­struktur dan Pengembangan Wilayah Kantor Menteri Koor­dinator Bidang Perekonomian Lucky Eko Wuryanto ditemui di Kantor Bappenas, kemarin.

Jika sampai akhir Juli ini ke­pastian tersebut belum diper­oleh, Lucky menyatakan, ke­mungkinan besar rencana pe­nyatuan zona waktu itu akan di­tunda, bahkan bisa batal. Se­bab, pihaknya membutuhkan waktu untuk sosialisasi dan persiapan penyatuan zona wak­tu itu. “Tapi kalau itu belum ada, ya bisa tidak jadi atau mun­dur,” tegasnya.

Kendati begitu, Lucky me­mastikan awal penyatuan zona waktu harus dilakukan pada ha­ri Minggu. Pasalnya, akti­vitas masyarakat dan pasar ti­dak ter­lalu padat. Namun, dia be­lum bisa memastikan waktu awal dimulainya rencana tersebut.

Sebelumnya, Komite Per­ce­patan dan Perluasan Pemba­ngunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) mengusulkan 28 Ok­tober 2012 dimulainya penya­tuan zona waktu tersebut.

Alasannya, karena ber­ba­re­ngan dengan hari bersejarah, yak­ni Hari Sumpah Pemuda. Ala­­san kedua, pada 28 Oktober 2012 tepat di hari Minggu dan dianggap memiliki beban lebih kecil dibandingkan hari-hari lain.

Namun, bekas Wakil Pre­siden Jusuf Kalla (JK) menilai, penya­tuan zona waktu akan membuat boros energi. Pa­sal­nya, energi yang digunakan untuk listrik dipastikan akan bertambah.

“Yang seharusnya pukul 04.00 dini hari lampu rumah masih gelap, tapi dengan ada­nya perubahan zona waktu energi yang dipakai akan ber­lebih,” ungkap JK.

Menurut Ketua Umum Pa­lang Merah Indonesia (PMI) ini, pemborosan energi bakal ter­jadi karena orang-orang yang be­kerja di kantor akan lebih awal pulang ke rumah, dan mulai beraktivitas di rumah dengan menyalakan lampu lebih awal.

Bekas Ketua Umum Partai Golkar ini juga menilai, ren­ca­na penyatuan zona waktu tidak mempunyai dasar baik. Peru­bahan itu akan menimbulkan kekacauan dalam kehidupan masyarakat.

JK mengimbau agar setiap perubahan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat dan harus terlebih dahulu diundang-un­dangkan. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya