Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Awas... Detak Jantung Tak Teratur Bisa Sebabkan Stroke

MINGGU, 27 MEI 2012 | 08:09 WIB

RMOL.Detak jantung yang tidak teratur atau Fibrilasi Atrium (FA), jangan dianggap remeh karena merupakan salah satu faktor risiko stroke yang belum banyak diketahui masyarakat luas.

Stroke merupakan penyebab kematian tertinggi untuk kategori penyakit tidak menular di Indo­nesia dan saat ini jumlah pen­de­ri­tanya terus meningkat tajam. Ma­s­yarakat perlu memahami be­tul sebab-sebab timbulnya stroke.

Hal itu disampaikan Kepala Divisi Aritmia di RS Pusat Jan­tung Nasional Harapan Kita Dr dr Yoga Yuniadi saat menggelar Media Edukasi ‘Bahaya Stroke Pada Penderita Fibrilasi Atrium’ di Jakarta, Senin (21/5).

“Serangan stroke yang terkait dengan FA umumnya lebih berat. Dampaknya lebih buruk dan pe­rawatannya lebih lama diban­dingkan pasien yang tidak me­miliki AF,” kata Yoga.

Dijelaskan, penderita FA me­mi­liki risiko stroke lima kali lebih tinggi dibanding dengan populasi umum. Kurangnya pe­nge­tahuan dan rendahnya ke­sadaran untuk memeriksakan diri ke dokter bisa mengancam jiwa mereka.

“Stroke FA umumnya lebih berat, perawatannya lebih lama dan bisa berujung pada ke­ma­tian,” warning Yoga.

Tingginya tingkat keparahan stroke yang diderita oleh pasien AF, lanjut Yoga, mengin­di­ka­si­kan bahwa penderita akan me­nga­lami penurunan kualitas hi­dup yang lebih drastis. Apalagi, penyakit ini paling umum dite­mui dan dapat diderita siapa­pun, tanpa batas usia.

“Oleh karena itu, pasien FA me­rupakan kelompok yang ha­rus mendapatkan penanganan serius untuk mengurangi beban stroke secara keseluruhan di ma­sya­ra­kat,” paparnya.

Ia menambahkan, kemung­kinan terjadinya FA akan me­ningkat seiring pertambahan usia. Untuk mengetahui diagnosis, da­pat dilakukan dengan skrining rutin terutama pada usia lanjut dengan elektro kardiografi dan periksa denyut nadi secara teratur.

Yoga lalu menguraikan, gejala-gejala FA yang paling mudah di­identifikasi adalah detak jantung tidak teratur, berdebar-debar, nye­ri atau rasa tidak nya­man di dada, kesulitan bernapas, dan pusing meski banyak juga pasien FA tidak menunjukkan gejala-gejala yang jelas.

Menurutnya, de­teksi dini FA dapat dilakukan dengan cara yang cukup seder­ha­na, cepat dan sa­ngat murah, yaitu dengan mengu­kur denyut nadi.

“Gaya hidup juga berkaitan de­­ngan timbulnya FA, khusus­nya pada asupan garam berlebih dan pola makan tinggi karbo­hidrat,” jelasnya.

Menurutnya, serangan stroke pada penderita FA bisa menye­babkan kecacatan dan kematian.  “50 persen stroke FA bisa me­nyebabkan pada kematian dalam periode satu tahun setelah ter­diagnosa,” terang Yoga.

Dia menambahkan, stroke me­rupakan gangguan kardio­vas­kular dengan prevalensi kedua tertinggi setelah penyakit jan­tung yang mengakibatkan ke­ma­tian 5,7 juta jiwa dan keca­cat­an pa­da 5 juta orang setiap tahun.

Sebab itu, kasus gangguan ira­ma jantung sering ditemui di klinik-klinik dan rumah sakit Indonesia. Di dunia, kasus ini juga dialami lebih dari 6 juta orang di Eropa, lebih dari 2,3 juta orang di Amerika Serikat dan 800 ribu orang di Jepang.

“Satu dari lima kejadian stroke iskemik disebabkan oleh FA. Ka­rena itu, beban kesehatan glo­bal akibat stroke sebenarnya dapat dikurangi jika penderita FA men­dapatkan pengobatan yang tepat untuk mengurangi risiko stroke,” tandas Yoga.

Spesialis saraf dari  Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr. M. Kurniawan me­nam­bahkan, dampak dari stroke pada perempuan justru lebih ber­bahaya ketimbang pria. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Timur Tengah Memanas, PKB Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pupuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38

Trump Bikin Gaduh Lagi, Hormuz Disebut “Selat Trump"

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53

Krisis BBM Sri Lanka Mulai Mengancam Sektor Pangan

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17

Arus Balik Lebaran 2026 Dorong Rekor Baru Penumpang Kereta Api

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24

IHSG Lesu Pasca Libur Lebaran, Asing Ramai-ramai Jual Saham

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52

Amerika Sesumbar Bisa Habisi Iran dalam Hitungan Minggu Tanpa Perang Darat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40

Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz, DPR Desak Presiden Turun Tangan!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28

Komisi XII DPR: WFH Bukan Solusi Tunggal untuk Hemat Energi!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12

Selengkapnya