ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Rumah sakit sebaiknya melaÂkukan pemeriksaan mikrobiologi agar tetap bebas dari bahaya infeksi nosokomial. Penyebaran inÂfeksi nosokomial seharusnya dapat dikendalikan untuk menÂcegah kejadian luar biasa (KLB).
Penyebaran infeksi nosokomial bisa terjadi dalam kurun 48-72 jam setelah pasien dirawat di RS. Infeksi jenis ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada pasien saja, melainkan juga dapat dialami semua tenaga kesehatan dan pengunjung rumah sakit.
“Infeksi di rumah sakit harus dapat dikendalikan karena beriÂsiko terjadinya KLB bahkan keÂmatian,†ujar Dekan Fakultas UniÂversitas Indonesia Ratna SiÂtompul saat diskusi bertajuk “PeÂnyebaran Infeksi di Rumah Sakit Harus Dikendalikan†di Ruang Seminar Departemen MikroÂbiÂologi FKUI Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, infeksi nosoÂkomial juga dapat mengakibatkan masa perawatan yang lebih lama dan biÂaÂya perawatannya pun leÂbih mahal. Dijelaskannya, infeksi di rumah saÂkit dapat bersumber dari atau meÂnyebar lewat pasien, tenaga keseÂhatan, pengunjung, peralatan, maÂÂkanan atau miÂnuman, lingkuÂngan rumah sakit atau tindakan tertentu.
“Tahun 2002, infeksi nosoÂkomial diidentifikasi oleh WHO sebagai infeksi yang didapat paÂsien selama perawatan di rumah sakit atau pelayanan kesehatan lainnya,†ujar Ratna.
Selama ini, infeksi nosokomial yang sering dilaporkan di berÂbagai negara adalah infeksi saÂluran kemih, saluran nafas baÂwah, daerah operasi, serta aliran darah.
“Infeksi di organ atau sistem tubuh juga dapat terjadi,†ujar Ratna.
Karena itu, Ratna meminta setiap rumah sakit punya Panitia Pengendali Infeksi (PPI) guna melakukan surveilans infeksi nosokomial dan pencegahan inÂfeksi nosokomial.
Kepanitiaannya meliputi kliÂnis, ahli mikrobiologi, perawat, ahli farmasi, bagian sterilisasi, kebersihan, laundry, dapur dan limbah. Salah satu aspek yang harus diperhatikan untuk penÂcegahan infesi nosokomial adalah pengendalian lingkungan.
Menanggapi hal tersebut, SeÂkreÂtaris Jenderal Kementerian KeseÂhatan (Kemenkes) Ratna Rosita mengatakan, masalah kesehatan yang dialami bangsa Indonesia sangat besar, luas dan kompleks. PeÂnyebabnya memerÂlukan upaya penÂcegahan dan penanggulangannya melibatkan seluruh komponen.
“Keberhasilan pembangunan kesehatan tidak semata-mata ditentukan oleh hasil kerja keras sektor kesehatan (Kemenkes) saja, tetapi sangat dipengaruhi oleh kerja keras serta kontribusi dari berbagai pihak,†ungkapnya kepada Rakyat Merdeka.
Kendati begitu,Ia menyadari akÂses pelayanan kesehatan yang beÂlum merata serta masih terbaÂtasnya sarana pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan. Selain itu, faktor perilaku dan lingkungan meruÂpaÂkan penyebab masalah kesehatan yang timbul selama ini. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12